Monday, 6 January 2020



Rencana / Target Aktifitas Harian
Daily Activities Plan


No
Waktu
Aktifitas
Sanksi
Keterangan
1
03:00 – 03:10
Bangun tidur


2
03:10 – 04:00
Tahajjud 11 rakaat (Murajaah Hafalan)
 Jika tidak tahajjud, saya akan solat dhuha sebanyak 12 rakaat

3
04:00 – 04:30
Shalat Subuh


4
04:30 – 05:00
Dzikir Al-Matsurat


5
05:00 – 05:30
Menghafal Quran (Ziyadah)
 Istighfar 100 kali / SEDEKAH MINIMAL 2000 RUPIAH

6
05:30 – 06:00
Persiapan berangkat sekolah


7
06:30 – 06:20
Aktifitas bebas


8
06:20 – 06:40
Berangkat ke sekolah


9
06:40 – 07:00
Shalat Dhuha


10
07:00 – 11:50
Aktifitas mengajar


11
11:50 – 12:00
Murajaah Hafalan


12
12:00 – 12:20
Shalat Dzuhur


13
12:20 – 12:30
Murajaah Hafalan


14
12:30 – 13:00
Istirahat + makan


15
13:00 – 15:00
Aktifitas mengajar


16
15:00 – 15:10
Murajaah hafalan


17
15:10 – 15:30
Shalat Ashar


18
15:30 – 15:40
Murajaah hafalan


19
15:40 – 16:00
Istirahat + Aktifitas bebas


20
16:00 – 17:00
Mengajar di Bimbel Nurul Fikri


21
17:00 – 17:30
Jemput istri dan anak


22
17:30 – 18:00
Pulang ke rumah


23
18:00 – 18:10
Murajaah Hafalan


24
18:10 – 18:30
Shalat Magrib


25
18:30 – 19:00
Mengaji + menghafal


26
19:00 – 19:20
Istirahat + Makan


27
19:20 – 19:30
Murajaah hafalan


28
19:30 – 19:50
Shalat isya


29
19:50 – 20:00
Murajaah hafalan


30
20:00 – 21:00
Baca buku


31
21:00 – 03:00
Tidur




Sunday, 4 February 2018


#Seri keluarga
Seorang kepala keluarga (suami atau ayah) berkewajiban menafkahi untuk istri dan anak-anaknya.
Yang perlu digaris bawahi dan digaris miring serta ditebalkan adalah "Menafkahi".
Menafkahi bukan hanya sekedar mencari nafkah. Artinya, seorang kepala keluarga bukan hanya bertugas mencari uang kemudian uang itu diberikan kepada istri, kemudian istri belanja dan masak buat suaminya dan mengerjakan semua pekerjaan rumah lainnya seperti mencuci baju, piring dll.
Melainkan sang suami lah yang berkewajiban memasak makanan sehingga menjadi nafkah makanan utuh, tidak setengah-setengah. Dan sang suami lah yang berkewajiban membelikan pakaian buat istri dan anak kemudian mencucikan pakaian tersebut sehingga menjadi nafkah pakaian yang utuh, tidak setengah-setengah.
Jadi mulai sekarang, buat para kepala keluarga jangan lagi beranggapan bahwa memasak, mencuci dan pekerjaan rumah tangga lainnya adalah tugas dan kewajiban istri. Kewajiban istri hanyalah taat pada suami. Termasuk taat ketika suami meminta dimasakin makanan dan dicuciin bajunya.. 



#SeriParenting 👨‍👩‍👧‍👦
Dikisahkan, demi memicu kemahiran putranya, seorang ibu mengajak sang putra untuk melihat pertunjukan konser seorang pianis kenamaan, *Ignace Padereweski*. Di dalam, sembari menunggu konser dimulai, sang ibu berbincang dengan penonton di sebelahnya. Begitu asyiknya, hingga melupakan keberadaan sang putra, dan tidak menyadari bahwa sang putra sedang berjalan menyelinap ke depan panggung. Ketika lampu ruangan meredup dan lampu spot menerangi piano, betapa terkejutnya sang ibu melihat putra kesayangannya duduk asyik di kursi sang maestro. Dengan lugunya, sang anak memainkan piano dengan jemari kecil, menyanyikan sebuah lagu.
Belum sempat sang ibu menghampiri putranya untuk turun dari panggung, sang pianis kenamaan ini keburu muncul di panggung dan langsung menuju ke piano.
"Jangan berhenti, teruslah bermain," bisiknya kepada anak tersebut. Dengan membungkukkan badan, Padereweski menekan tuts dengan tangan kiri dan mulai memainkan bagian bass. Kemudian dengan tangan kanan, ia menjangkau sisi piano yang lain, lengannya di belakang punggung anak tadi, dan menambahkan permainan _obligato_. Hasilnya, luar biasa, kombinasi permainan anak kecil dan sang maestro membuahkan lantunan indah yang memukau para pengunjung. Permainan mereka berdua disambut gemuruh tepukan tangan hadirin.
*(Kisah dari buku The Islamic Golden Rules, Laode M Kamaludin dan A Mujib El Shirazy)*
Membaca kisah di atas ada rasa haru berkecamuk dalam dada, ada rasa kagum yang tak tertahan, atas apa yang dilakukan oleh seorang *Padereweski*. Ia, sang pianis kenamaan dunia ini telah menunjukan sebuah _keteladanan_ nan indah, bagaimana semestinya orangtua berlaku kepada putra putri mereka. Padereweski nampaknya tahu benar bagaimana orang dewasa semestinya berlaku pada anak anak. Ia begitu mengerti cara menjaga perasaan anak. Ia juga tahu bagaimana meningkatkan _rasa pede_ dan sikap _optimisme_ pada anak anak. Ia tahu benar bahwa perlakuan macam apapun dari orang dewasa kepada seorang anak, akan memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk mental sang anak ketika dewasa kelak..

Sebuah nasihat bijak yang ditulis *Dorothy Law Nolte* dalam buku *Children Learn What They Live*,
_Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki_
_Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi_
_Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri_
_Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri_
_Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri_
_Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai_
_Jika anak dibesarkan dengan sebaik baik perlakuan, ia belajar keadilan_

Sunday, 17 December 2017

Seorang murid bertanya kepada gurunya.
Murid: "Wahai guruku, kenapa Allah meluluh lantahkan dan membinasakan kaum 'Aad, Tsamud, kaum sodom, kaum Fir'aun dll, hingga tak bersisa? Sedangkan kaum Bani Israil / Yahudi Allah sisakan?"
Guru: Jikalau Allah menghabiskan kaum Bani Israil / Yahudi, lantas apa yang tersisa untuk kita? Apa yg tersisa untukku dan untukmu, wahai muridku?
Murid: Apa maksud guru?
Guru : Camkan ini baik-baik wahai muridku, Allah menyisakan kaum Yahudi adalah sebagai ladang jihad qitaal untuk kita, umat islam Jaman Now. Jadi, kalau kamu mengharapkan terjadi perdamaian dengan kaum Yahudi, itu hanyalah sebuah angan-angan dan fatamorgana. karena Rasulullah SAW telah bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
” Tidak akan terjadi hari kiamat sebelum kaum Muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kemudian kaum Muslimin membunuh mereka sampai orang Yahudi bersembunyi di belakang batu atau pohon. Maka batu -atau- pohon itu berkata : Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini di belakangku ada Yahudi, kemarilah lalu bunuhlah. Kecuali pohon Gharqad (sebuah pohon berduri yang dikenal dikalangan bangsa Yahudi), sesungguhnya Gharqad itu adalah pohon Yahudi”.
(H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim )
Wahai kaum muslimin, musuh kita sudah jelas. Jangan lagi bercerai berai hanya karena masalah khilafiyah. Ber -SATU- lah!


Sunday, 10 September 2017


Perkenalkan ini kakak pertamaku, Asep Sopyan, seorang praktisi asuransi yang sukses dan sekarang tengah merambah ke dunia musik, hobi dan bakatnya sejak kecil.

Kami lahir dari rahim yang sama, rahim seorang ibu yang sederhana. Ibu kami dikenal memiliki suara yang bagus, apalagi ketika melantunkan ayat suci Alquran. Beliau juga seorang vokalis grup qosidah di majelis ta’lim dekat rumah. Mungkin karena itulah kami mewarisi bakat yang sama dari ibu kami. Bakat dalam seni musik. Jika ditelisik lebih jauh, paman, bibi, kakek dan buyut kami pun memiliki bakat yang sama. Mereka adalah qori yang pandai melantunkan ayat suci Alquran. Mungkin inilah yang disebut dengan bakat tujuh turunan. hehe

Sebetulnya ketika kecil, aku nyaris tidak memiliki kenangan yang cukup indah bersama kakak pertamaku ini yang mampu ku simpan ke dalam memori otakku. Karena usia kami terpaut cukup jauh, yaitu sekitar 8 tahun, sehingga aku lebih sering bermain ditemani kakak keduaku, Ade Hidayat. Apalagi ketika lulus SMA, Kak Asep melanjutkan kuliah ke Jakarta. Namun, ada satu hal yang aku tidak pernah lupa, setiap kali kak Asep mudik, kami selalu berlatih bersama melantunkan bacaan Alquran dengan lagu. Atau sekali-kali aku berkunjung ke tempat kos kakakku di daerah Ciputat Tangerang, dan kami sering memainkan gitar sambil bernyanyi bersama.

Kak Asep menikah pada tahun 2009. Kemudian pada tahun 2011, beliau memutuskan masuk ke dunia bisnis asuransi sebagai mata pencahariannya. Satu hal yang cukup membuatku terkejut, karena sebelumnya yang aku tahu kakakku adalah seorang penulis lepas, editor buku dan seorang surveyor di sebuah lembaga survey. Tapi karena kerja keras dan persistensinya, beliau sukses di bisnis asuransi dan memiliki penghasilan yang cukup fantastis.

Karena kebutuhan dasarnya telah terpenuhi, maka beliau hendak mewujudkan kembali salah satu mimpinya, yaitu menjadi musisi (menulis novel adalah mimpinya yang lain). Sekarang ini, Kakakku sudah meluncurkan sebuah album perdana bertajuk Himne Cinta yang berisi 11 lagu. Judul – judul lagu tersebut adalah :
1.      Adinda
2.      Bukan Basa-basi
3.      Di Antara Bunga – bunga
4.      Di Pasir Putih
5.      Haruskah Ku Menanti
6.      Himne Cinta
7.      Manusia Pertama di Dunia
8.      Membayangi Bulan
9.      Seuntai Nada
10.  Takdir Kita
11.  Wajah yang Selalu Pagi

Mendengar lagu-lagu dalam album Himne Cinta, mengingatkanku kepada sosok Ayahanda tercinta yang telah lama meninggal. Almarhum adalah seorang penggemar berat seorang musisi besar yang popular pada tahun 80-an yang menjadi inspirasi dan secara sadar maupun tidak sadar mempengaruhi warna suara, lirik dan lagu dalam album Himne Cinta, yaitu Ebiet G. Ade.
Bahkan ada salah seorang temanku yang ketika aku perdengarkan lagu kak Asep yang berjudul Wajah yang Selalu Pagi, dia berkata “Kayak lagu Ebiet G. Ade ya?” Aku pun hanya tersenyum dan berkata, lagu-lagu dia (Ebiet) yang sering didengarnya.

Sesuai dengan tajuk albumnya, lagu-lagu dalam album Himne Cinta, bercerita seputar cinta. Kita akan bisa merasakan aura seseorang yang tengah jatuh cinta ketika mendengar lagu-lagu ini. Bukan cinta yang erotis, bukan cinta yang murahan, melainkan cinta yang suci dan hakiki.
Coba perhatikan petikan lirik dalam lagu berjudul Himne Cinta berikut:
Karena cinta, mekarlah bunga – bunga
Karena cinta, keindahan tercipta,
Karena cinta, hidup penuh makna

Atau petikan lirik dalam lagu yang berjudul Di Antara Bunga-Bunga.
Entah apa yang semalam kau taburkan
Pagi ini halaman rumahku penuh bunga-bunga
Daunan dan rumputan mekar, sebagai bunga, sebagai bunga
Akar, batang ranting merekah, seperti bunga, seperti bunga
Embun kabut dan udara semerbak sewangi bunga
Bahkan matahari pun mengelopak serupa bunga

Lirik-liriknya sungguh sangat puitis, penuh makna, buah dari perenungan yang dalam. Dijamin, perempuan mana yang gak kelepek-kelepek dinyanyikan lagu ini. ^_^

Sebagai seorang yang sama – sama menyenangi musik, (aku pernah memiliki grup band beraliran pop-rock ketika SMA dan sekarang pindah haluan ke musik nasyid) aku menilai inilah karya ‘masterpiece’ dari Asep Sopyan, kakakku. Sebuah karya yang meskipun tentu masih ada kekurangan, layak untuk di apresiasi. Dua jempol untuk album Himne Cinta.
Penasaran dengan lagu-lagu kakakku?
Lagu lagu bisa didengarkan dan diunduh di :
Terakhir, aku berharap kak Asep dapat melahirkan karya-karya masterpiece-nya yang lain. Dan semoga, aku pun bisa seperti kakakku. J

Bandung, 10 September 2017
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!