Wednesday, 21 October 2015


Gerakan ini lahir pada tahun 2015, dipelopori oleh seorang pemuda kelahiran Pandeglang, Banten, 26 tahun yang lalu, yang bernama Muhammad Ridwan, dan sekarang tinggal di daerah Rancaekek, kabupaten Bandung.
Dimulai dari keprihatinan akan kondisi musholla di perumahan dimana sekarang dia tinggal yang sudah tidak layak pakai. Padahal mushollanya aktif digunakan oleh warganya untuk sholat, pengajian ibu-ibu majlis ta’lim, latihan nasyid, dll. Musholla kecil yang berukuran 400 cm x 600 cm itu bahkan sudah tidak muat menampung warganya untuk sholat berjama’ah, apalagi pada saat bulan Ramadhan.
Oleh karena itu, pemuda yang biasa disapa Ridwan itu mengajak beberapa warga yang aktif di musholla untuk membuat Gerakan Renovasi Musholla. dengan struktur organisasi inti sebagai berikut:

Penasehat : Ust Ruspendi
Ketua : Asep Suparlan, 
Sekertaris: Muhamad Ridwan 
Bendahara: Suratman
Koord. Pelaksana : Odang
Koord. Pendanaan: Iman
Koord. Humas : Ajat Sudrajat

Target musholla pertama yang akan direnovasi adalah musholla Al-Ikhlas yang berlokasi di Perum Griya Utama, jl. Cendana 4 No. 54, Rancaekek, Bandung.
Musholla tersebut sudah tidak bisa diperlebar ke samping, karena posisinya terletak di antara dua rumah. Oleh karena itu, rencananya Musholla itu akan dirubah menjadi Masjid berlantai dua agar bisa menampung lebih banyak jama’ah.
Kami berharap, rencana kami bisa segera terlaksana, agar musholla tersebut bisa digunakan sebagai pusat kegiatan dan pendidikan masyarakat, dan agar bulan Ramadhan tahun depan, kami tidak perlu menggunakan jalan di luar musholla untuk solat tarawih.
Target ke depan, kami bisa merenovasi seluruh musholla di Indonesia, agar masyarakat bisa menjadikan musholla dan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat sehingga menjadi tolak ukur tingkat keimanan dan ketaqwaan masyarakatnya.
Oleh karena itu kami mengharap partisipasi dari Anda, para dermawan di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam upaya merovasi musholla-mushola tersebut dengan menyalurkan donasi terbaik Anda. Donasi bisa dikirim melalui no. Rekening 7087655312 a.n Muhamad Ridwan. Atau untuk daerah Bandung dan sekitarnya, bisa menghubungi nomor 087772501195 jika ingin menyerahkan bantuan secara langsung.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At Taubah: 18)

Mari menjadi bagian dari Hamba-hamba Allah yang memakmurkan masjid!

Thursday, 24 September 2015


Hari ini aku menangis. Ya, menangis. Kenapa menangis? Entahlah, kenapa aku menangis. Yang aku tahu, aku menangis ketika menyanyikan sebuah lagu karya Shoutul Harokah “Indonesia Memanggil.” Begini liriknya:

Singsingkan lengan baju pancangkan asa
Ukirlah hari esok pertiwi jaya
Bergandengan tangan tuk meraih ridho Allah

Buatlah negri ini selalu tersenyum
Bahagia dan Sejahtera dalam cinta-Nya
Tiada lagi resah tiada lagi duka lara

Negeri indah Indonesia
Memanggil namamu
Menyapa nuranimu

Negeri Indah Indonesia
Menanti hadirmu
Rindukan karyamu

Kemerenung sejenak, memikirkan sebab aku menangis. Keresapi dalam – dalam makna lirik lagunya. Akhirnya aku sedikit menemukan jawaban kenapa aku menangis. Aku menangis karena rindu. Ya, aku begitu rindu. Aku begitu merindukan sebuah negeri. Sebuah negeri seperti yang digambarkan dalam lirik lagu tersebut. Sebuah negeri yang selalu tersenyum, sebuah negeri yang bahagia, sebuah negeri yang sejahtera dalam cinta-Nya. Sebuah negeri yang tidak mengenal kata resah dan tidak ada duka lara di dalamnya. Sebuah negeri yang mendapat ridho-Nya.
Ah, negeri itu hanya sebuah mimpi, hanya sebuah fatamorgana. Tak mungkin ada negeri seperti itu.
Hey, kawan.....
Bangunlah..... Sadarlah.....
Negeri yang indah ini memanggil namamu! Negeri yang indah ini menyapa nuranimu!
Bangunlah..... Sadarlah.....
Negeri yang indah ini menanti hadirmu! Negeri yang indah ini merindukan karyamu!

Kau bisa mewujudkan negeri itu dengan tanganmu, kau pasti bisa! Bukankah Tuhan telah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS 13:11)

Kita harus mengawalinya dengan gagasan. Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan yang diwujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali akan menjelma menjadi watak, dan watak inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib. Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib kita ada di tangan kita. Nasib negeri kita ada di tangan kita.
Hay kawan....
Bangunlah..... Sadarlah.....
Berfikirlah, bertindaklah, berkaryalah, dan bermanfaatlah untuk negeri dan umat ini.
Indonesia, memanggilmu!



Bandung, 25 September 2015

Wednesday, 16 September 2015


Ada satu kejadian lucu saat kami menghadiri tahlilan di rumah almarhum kawan kami di daerah Serang. Meski kami sudah janjian berangkat bareng habis magrib, ada juga beberapa teman yang ketinggalan.
Salah satunya Kusmana. Dia menyusul dari Pandeglang dengan bekal keterangan seadanya tentang alamat rumah almarhum. Ternyata dia kesasar. Dari jalan raya, dia masuk ke gang berikutnya dari gang yang seharusnya dituju. Kebetulan di salah satu rumah di gang itu juga ada acara tahlilan. Karena tempat duduk sudah penuh, dia duduk di teras depan. Dia tidak melihat satu pun teman-temannya di antara jemaah tahlil. Pikirnya, mungkin kami ada di ruang dalam. Dan karena acara tahlilan sudah memasuki sesi pembacaan Yasin, dia pun ikut membaca Yasin, selanjutnya mengaminkan doa yang dipimpin ustadz.
Setelah doa selesai, saat makanan diedarkan, Kusmana mendengar orang-orang bercakap-cakap tentang almarhum. Tapi nama yang mereka sebut berbeda dengan nama teman kami.
“Memang siapa yang meninggal, Pak?” tanya Kusmana kepada orang di sebelahnya.
“Haji Januri,” jawab orang itu. Melihat Kusmana tampak terkejut, orang itu bertanya, “Adik mau ke tahlilan siapa?”
“Teman saya, namanya Subhan.”
“Oh, mungkin di gang sebelah. Saya dengar di RW sana juga ada yang meninggal tadi siang. Orangnya masih mahasiswa, kan?”
“Betul, Pak. Terima kasih.”
Dengan menahan malu, Kusmana keluar dari forum tahlilan di rumah almarhum Haji Januri. Ketika dia menemukan rumah almarhum Subhan, tahlilan sudah selesai, tapi kebetulan kami masih duduk-duduk mengobrol di ruang depan. Melihat Kusmana datang terlambat karena kesasar, kami semua tertawa terbahak-bahak, lalu meledek dia habis-habisan.
Tapi tak seorang pun yang menyangka bahwa kejadian kecil ini, yang kami anggap lucu saja, di alam baka sana ternyata berakibat serius baik bagi arwah Subhan maupun Haji Januri.
Begini ceritanya.

Ketika seluruh amalan Subhan ditimbang di pengadilan Mahsyar, total amalan baiknya lebih ringan daripada total amalan buruknya dengan selisih yang amat sangat tipis sekali. Tapi di akhirat, amalan sekecil apa pun ada balasannya. Itu artinya, Subhan harus direbus dulu beberapa saat –yang berarti ribuan tahun– di neraka sampai kebaikannya menjadi lebih berat.
Subhan memohon-mohon kepada malaikat juru timbang agar selisih kecil itu diabaikan saja. Tapi malaikat berpegang pada hukum besi pengadilan. Subhan pun menangis. Mulanya tersedu-sedu, lalu berubah menjadi raungan panjang ketika malaikat lain menyeretnya turun dari panggung pengadilan dan melemparnya ke jalur kecil menuju jembatan Siratal Mustaqim.
Subhan bangkit. Satu kekuatan yang tak bisa ia tolak memaksanya melangkahkan kaki ke luar padang. Wajahnya menunduk. Tak dilihatnya miliaran manusia yang berjajar di kiri kanannya sejauh mata memandang, memadati setiap jengkal padang Mahsyar.
Sekeluar dari padang Mahsyar, ternyata masih jauh jalan yang harus ia tempuh untuk sampai di jembatan. Sembari berjalan, Subhan terus memikirkan hasil timbangan amalnya. Selisihnya yang amat tipis membuat hatinya terasa sesak. Berlaksa pengandaian berkelebatan di pikirannya. Kenapa dulu ia tidak menambah satu saja kebaikan, biarpun kecil… Kenapa waktu di dunia ia tidak mengurangi satu saja keburukan… Seandainya ia memberi seratus rupiah saja kepada pengamen jalanan itu… Jika saja ia mau menunggu temannya yang sedang berwudu agar bisa salat berjamaah dan bukannya mendahului salat sendiri… Kalau saja ia tak berbohong kepada ibunya soal uang kuliah… Andaikata ia mengurangi sekali saja aktivitasnya menonton film biru… Sekiranya ia tidak mengirim SMS-SMS iseng ke banyak perempuan sekaligus….
Akh….
Setelah ribuan tahun berjalan, tampaklah patok jembatan Siratal Mustaqim di kejauhan. Jembatan itu terlihat beruap, mengepul-ngepulkan hawa panas, tanda di bawahnya ada kawah api yang menyala-nyala. Ingin Subhan berhenti berjalan, tapi tak bisa.
Saat itulah ada satu suara menegurnya. Malaikat, entah petugas apa.
“Kamu yang bernama Muhammad Subhan bin Marijan?”
Subhan mengangguk lemah. Tak kuasa ia mengeluarkan suara.
“Kamu disuruh kembali ke padang Mahsyar.”
Subhan terkejut.
“Ya. Juru timbang mengatakan kemungkinan ada perubahan dengan hasil timbanganmu.”
Secercah kegembiraan melintas di wajah Subhan. Tapi membayangkan perjalanan balik ribuan tahun ke padang Mahsyar, wajahnya meredup kembali.
“Terserah, apa kamu mau lewat jembatan itu atau putar balik ke padang Mahsyar.”
Subhan menatap kepulan uap di atas jembatan. Tentu mendingan kembali ketimbang meniti jembatan panas itu. Lagi pula siapa tahu di padang Mahsyar ada perbaikan nasib.
“Apa aku harus jalan kaki?” Adanya harapan membuat suara Subhan pulih. “Padang Mahsyar kan jauh sekali.”
Malaikat terkekeh. Dia melempar sebutir kapsul yang tiba-tiba berubah menjadi seekor kuda bersayap.
“Kamu naik kuda ini,” kata malaikat.
“Kenapa tak bilang dari tadi?” kata Subhan kesal.
“Hehehe, kapan lagi bisa mengospek manusia kalau bukan sekarang?”
Kuda bersayap itu merunduk. Subhan naik. Cepat sekali ia melesat. Beberapa kejap saja Subhan telah sampai di padang Mahsyar. Setibanya di panggung pengadilan, Subhan langsung disergap oleh sebuah makian.
“Sialan kau, Subhan! Kau rampas hakku!”
“Haji Januri?”
Haji Januri meninggal pada hari yang sama dengan Subhan, hanya lebih belakangan beberapa menit. Urutan keduanya di pengadilan Mahsyar pun tidak terpaut jauh. Tapi Subhan terheran-heran atas sebab apa tiba-tiba Haji Januri memakinya.
Keheranan Subhan segera terjawab saat juru timbang menerangkan.
“Begini, Muhammad Subhan bin Marijan. Rupanya ada sebuah doa yang sangat ikhlas dari kawanmu yang bernama Kusmana bin Abdullah, cuma doa kawanmu itu kesasar di kotak Ahmad Januri bin Idris. Jadi mohon maaf, kami belum sempat menyertakan doa itu pada timbangan amalmu.”
Subhan melongo.
“Sini, Muhammad Subhan bin Marijan, coba amalanmu kami timbang lagi.”
Ketika doa Kusmana diteteskan ke timbangan, perlahan-lahan terjadi perubahan. Subhan menyaksikan dengan hati deg-degan. Mulanya satu dosa kecil Subhan terhapus, dan ini membuat timbangan jadi seimbang. Lalu disusul dengan bertambahnya satu kebaikan kecil. Tadinya kebaikan kecil itu tertolak karena mengandung unsur riya; berkat doa Kusmana, riyanya hilang sehingga kebaikan kecil itu dinilai sebagai pahala.
Dengan demikian, selanjutnya total amalan baik Subhan menjadi sedikit –sangat sedikit sekali– lebih berat ketimbang total amalan buruknya. Maka bersujudlah Subhan di lantai pengadilan. Air matanya bercucuran, kali ini tanda kebahagiaan.
“Sekarang sudah jelas,” kata malaikat juru timbang. “Ahmad Januri bin Idris dan Muhammad Subhan bin Marijan, silakan menuju jalur jembatan Siratal Mustaqim.”
“Aku tidak terima!” teriak Haji Januri. “Doa itu sudah masuk ke kotakku. Mestinya itu milikku.”
Malaikat lekas menyeretnya ke bawah panggung. Tapi Haji Januri berontak. “Tuhan! Di mana Engkau? Aku mohon keadilan-Mu. Ya Nabi, aku mohon syafaatmu!”
Karena Haji Januri terus berteriak-teriak, para malaikat pun berunding. “Baiklah, Ahmad Januri bin Idris, kami akan minta pertimbangan kepada Tuhan.”
Para malaikat memanggil Tuhan. Dan ketika Tuhan datang, seketika padang Mahsyar diselimuti aura kesejukan, kedamaian, ketundukan.
“Apa yang kalian perselisihkan?” tanya Tuhan.
“Sebuah doa, Yang Mulia,” jawab malaikat juru timbang. “Doa dari seorang bernama Kusmana bin Abdullah.”
“Doa itu dibacakan di tahlilan saya, Tuhan,” sela Haji Januri.
“Tapi itu untuk saya, Tuhan,” Subhan ikut menyela. “Kusmana sahabat saya.”
Malaikat meneruskan, “Meski doa itu dibacakan di tahlilan Ahmad Januri bin Idris, dan tentunya Kusmana bin Abdullah mengaminkan doa yang dialamatkan untuk Ahmad Januri bin Idris, tapi hati Kusmana menujukan doa itu untuk Muhammad Subhan bin Marijan, sahabatnya. Hanya saja doa tersebut masuk ke kotak Ahmad Januri bin Idris sebab dikirim satu paket bersama doa dari peserta tahlilan lainnya.”
“Hmmh, jadi ibaratnya SMS nyasar, gitu ya?”
“Betul, Yang Mulia.”
“Baiklah. Begini kebijakan-Ku. Doa itu merupakan hak Muhammad Subhan bin Marijan. Tapi Ahmad Januri bin Idris pun berhak atas jasa sewa karena kotaknya telah dipakai menyimpan doa orang lain. Lagi pula dia terlanjur gembira dengan adanya doa itu di kotaknya, dan sungguh, berkat rahman rahim-Ku, Aku tidak tega memupus kegembiraannya. Dengan ini Kuputuskan, Ahmad Januri bin Idris tidak perlu menjalani penggodokan di neraka.”
Cerahlah muka Haji Januri. Dan dia bersujud sambil membentur-benturkan jidatnya ke lantai berkali-kali. “Terima kasih, Tuhan…. Terima kasih, Tuhan….”
Demikianlah. Dan untuk kedua kalinya, kembali kami dibuat tertawa oleh –kali ini– cerita Subhan, ketika dia, Kusmana, dan kami semua duduk-duduk sambil minum-minum seraya memeluk bidadari masing-masing di taman surga. Alhamdulillah, tak satu pun di antara kawan kami yang ikut tahlilan waktu itu sempat mampir di neraka. []

Wednesday, 19 August 2015




Hari ini (Senin, 17 Agustus 2015) di komplek aku tinggal, tengah mengadakan perlombaan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Dimeriahkan dengan rangkaian perlombaan seperti sepeda hias, futsal, tenis meja, catur, dll. Tapi sayangnya aku tidak bisa mengikuti jalannya perlombaan tersebut karena harus mengantar istriku berangkat L*q* di rumah ustadzahnya di daerah Tanjungsari, Sumedang. Aku hanya bisa melihat sebentar ketika panitia berteriak tanda mulai perlombaan sepeda hias yang diikuti oleh anak-anak sekitar komplek. Setelah itu, aku masuk ke rumah, makan dan buang air, lalu berganti pakaian kemudian memanaskan motor. Istriku sudah selesai mandi (baru mandi, dingin kalau mandi subuh), berganti pakaian dan sholat dhuha. Sedangkan aku belum sholat dhuha. Kuniatkan untuk sholat setelah mengantar istriku. Kami pun berangkat sekitar pukul 8.40 pagi. Kurang lebih 30 menit, kami pun sampai di tempat L*q*. Istriku pamit dan menyalami tanganku. Kupandangi wajah istriku dan tersenyum padanya. Kuamati dia sampai masuk ke rumah ustadzahnya.

Seketika aku melihat hamparan sawah yang luas di belakang rumah ustadzah istriku. Sudah lama aku tidak menikmati keindahan persawahan. Akhirnya aku putuskan untuk memarkirkan motorku di belakang rumah dan berpetualang di area sawah. Kutelusuri jalan pematang sawah yang di sisinya ada aliran air irigasi. Karena airnya jernih, aku ikuti aliran air itu menuju sumbernya. 
Kulihat sekeliling, ada tanaman padi, hui (ubi jalar), dan tembakau. Jauh selepas pandangan ke depan, aku melihat gunung yang hijau. Membuat mataku menjadi segar. Sungguh maha karya Allah yang sangat indah. Aku sangat merindukan suasana ini. Suasana pedesaan dan persawahan seperti di tanah kelahiranku, Pandeglang, Banten. Di daerahku, Pandeglang, orangtuaku memiliki lahan persawahan yang cukup luas. Banyak tanaman yang ditanam di sana. 
Ada jagung, padi, pepaya, labu, jeruk, rambutan, pohon jati, albasiah, durian, dan tanaman tanaman pagar yang bisa dijadikan lalapan, seperti daun singkong, jaat, kacang panjang, dll. Sungguh makmur dan sejahtera. Tinggal petik jika tiba masa panen. Tidak perlu beli di pasar yang harganya sudah tak menentu karena mahalnya bahan bakar.




Di hari kemerdekaan indonesia ini, saya mohon kepada Allah Swt, agar melimpahkan berkah dan rahmatnya kepada seluruh rakyat indonesia. Menjadikan tanah-tanahnya subur, sehingga tanaman bisa tumbuh dengan baik dan para petani menjadi sejahtera dan bahagia. Aku teringat lirik lagu Koes Plus yang menggambarkan keadaan bangsa Indonesia dulu kala.

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Di hari kemerdekaan ini pula, saya memohon kepada Allah agar mengkaruniakan kepada rakyat Indonesia seorang pemimpin yang adil dan amanah. Yang peduli terhadap seluruh rakyatnya. Yang memperhatikan kesejahteraan orang orang miskin. Seperti khalifatul islam, Umar ibnu Khattab. Aamiin.
MERDEKA!!!!

Wednesday, 12 August 2015

Setelah menyelesaikan sholat dhuha 8 rakaat di Masjid Raya Bandung, Aku keluar masjid menuju Alun-alun Kota Bandung yang terletak persis di depan Masjid. Alun-alun yang menjadi ikon Kota Bandung tersebut, tanahnya dilapisi rumput sintetis sehingga terlihat indah seperti hamparan permadani besar bergradasi hijau. Kulihat jam tangan masih menunjukan pukul 09.15 pagi, sehingga tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Hanya terlihat orang orang lalu lalang di pelataran masjid dan beberapa kelompok perempuan yang tengah "selfie" di padang rumput sintetis dengan backgound Masjid Raya Bandung yang indah dan megah. Aku hanya tersenyum senyum saja melihat kelakuan mereka yang tengah selfie. Bergonta ganti gaya bak model majalah. Waktu yang paling favorit untuk berkunjung ke Alun alun adalah menjelang sore hari hingga malam, karena udaranya sejuk dan sinar matahari tidak terlalu panas.  Biasanya pada waktu itu, Alun-alun penuh sesak seperti lautan manusia. 

Kemudian aku duduk di atas rumput, menaruh tas di sampingku dan membuka jaket karena ingin menikmati hangatnya sinar mentari pagi yang sehat. Aku duduk bersila memandangi masjid yang berdiri kokoh nan megah di hadapan saya. Masjid tersebut memiliki 1 buah kubah utama yang sangat besar dan 2 kubah yang lebih kecil berwarna emas di samping kiri dan kanannya dan memiliki menara yang juga terletak di samping kiri dan kanannya. Aku begitu terpesona melihat kekokohan dan kemegahan rumah Allah yang satu ini. Begitulah Aku. Aku selalu kagum ketika melihat rumah Allah yang besar, megah dan indah. Kerap kali aku bepergian ke suatu tempat atau daerah, pasti aku akan menyempatkan diri untuk singgah di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat sunah. Terlebih lagi, ketika menemukan masjid yang berarsitektur indah dan unik. Penasaran rasanya apabila tidak singgah walaupun hanya sebentar.

Namun, sungguh miris rasanya ketika menemukan masjid yang besar dan indah, tapi sepi dengan jama'ah ketika memasuki waktu sholat fardhu. Ya begitulah kondisi umat islam sekarang ini. Orang orang berlomba membuat masjid yang besar, megah dan indah bahkan dengan biaya yang fantastis, namun sepi dengan jama'ah sholat, apalagi di waktu sholat subuh, hanya terdiri dari satu atau dua baris yang ompong, itupun jama'ahnya sudah berusia lanjut. Berbanding terbalik dengan tempat tempat sumber ekonomi seperti mall, supermarket dan pasar yang selalu ramai dengan pengunjung hampir di setiap waktu. Sungguh sangat menggenaskan!!!.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Belum akan datang Kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan memperindah masjid-masjid” (HR. Abud Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baghawi. Hadist ini dinyatakan Shahih oleh al-Albani)

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi).

Masjid merupakan simbol tegaknya Islam. Untuk melihat seberapa mengakarkah nilai islam di suatu daerah/kampung, cukuplah kiranya kita lihat masjid2 dan musholla2nya. Dari seluruh jumlah penduduk berapa persenkah yang selalu sholat berjamaah di masjid/musholla??


Maha Suci Allah yang telah berfirman: “Hanya orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah; mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah: 18)


Yuk cintai masjid... Yuk makmurkan masjid dan menjadikan masjid sebagai sarana untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.. Seseorang yang mencintai sesuatu pasti hatinya akan selalu terpaut pada hal tersebut. Cinta masjid? Insya Allah terpaut terus sama masjid…. Cakep deh.

“Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah; salah satunya ialah seseorang yg hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita dan keluarga kita termasuk orang orang yang Allah beri petunjuk untuk memakmurkan masjid. Aamiin

Wallahu a'lamu bishowab.

Bandung, Kamis, 6 Agustus 2015.

Wednesday, 24 June 2015




Saya awali dengan sebuah pertanyaan,

 “How many languages have you mastered?”
Kam lughotan istatho’ta lilkalam?”
Berapa banyak bahasa yang sudah anda kuasai?

Semakin banyak bahasa yang anda kuasai, maka semakin bagus untuk kehidupan anda. Mengapa saya katakan demikian?
Berikut ini merupakan contoh beberapa orang yang sukses menguasai beberapa bahasa asing di dunia.
1.      Muhammad Al-Fatih, sang penakluk konstantinopel, menguasai 7 bahasa asing.
2.      H. Agus Salim, mantan Mentri Luar negri R.I menguasai 6 bahasa asing.
3.      Gayatri wailisa, seorang doctor cilik yang lahir di Ambon, Maluku. Saat berusia 16 tahun, telah menguasai 13 bahasa asing. Yaitu, Bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Prancis, Thai, Korea, India, Rusia dan Tagalog)
Dan masih banyak lagi tokoh – tokoh yang menguasai banyak bahasa (bahkan mencapai 68 bahasa asing) yang kebanyakan adalah orang-orang non-Muslim.
Lantas kita sebagai seorang muslim, bahasa apa yang sudah kita kuasai? Apakah hanya bahasa Indonesia? Atau sunda? Atau jawa?
(Saya bisa banyak bahasa, bahasa Indonesia, bahasa sunda halus, sunda kasar, jawa halus, dan bahasa jawa kasar. Hehehe)
Sebelumnya, saya mau bertanya lagi.
Apa itu Bahasa??
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri, percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik atau sopan santun. Begitulah pengertian bahasa menurut Indrawan WS dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dari pengertian tersebut, kita bisa membayangkan apa jadinya kalau tidak ada bahasa di dunia ini. Bagaimana caranya kita berkomunikasi??
Saat ini kita patut bangga terhadap Bahasa Nasional kita Bahasa Indonesia. karena Bahasa Indonesia termasuk ke dalam 10 bahasa yang banyak digunakan di dunia dengan jumlah penutur sekitar 259 juta jiwa. Bahkan sejak tahun 2007, Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa kedua di Vietnam. Fakta menarik lainya, Bahasa Indonesia menduduki peringkat ke-3 di Asia dan peringkat ke-26 di dunia dalam hal tata bahasa terumit di dunia. Walaupun rumit, Bahasa Indonesia mendunia di dunia maya, karena Wikipedia Bahasa Indonesia telah menduduki peringkat ke-26 dari 250 Wikipedia berbahasa asing di dunia.
Well, saya akan langsung ke pertanyaan inti. Mengapa penting bagi kita sebagai seorang muslim, menguasai bahasa asing lainnya?
Dahulu, saya baru mengenal bahasa asing, khususnya bahasa inggris, sejak kelas 4 Sekolah Dasar. Tapi tidak dengan sekarang. Di era globalisasi sekarang ini, bahasa asing sangatlah penting. Terutama bahasa Inggris yang disebut sebagai bahasa Internasional. Bahkan diakui menjadi bahasa kedua di beberapa Negara di bumi ini. Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di bumi ini dengan penutur mencapai 500 juta jiwa.
Sekarang, mulai duduk di bangku TK, kita sudah diperkenalkan dengan pelajaran bahasa Inggris. Berlanjut ke SD, SLTP, SMA, Kuliah S1, S2, bahkan S3 sekalipun, kita terus dihadapkan dengan bahasa Inggris. Dan tak sedikit sekolah di Indonesia yang bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris.
Tidak hanya sampai situ. Ketika memasuki dunia kerja, banyak perusahaan yang mewajibkan pelamarnya mempunyai keahlian berbahasa asing. Bahkan saat daftar PNS (Pegawai Negeri Sipil) tidak luput dari yang namanya tes Bahasa Inggris. Bukan begitu?.
Kalau kita melihat para petinggi kita yang harus berdiplomasi dengan petinggi bangsa lain, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris. So, penting gak sih Bahasa Inggris??
Selain itu, kita sebagai umat muslim yang berbahasa ibu Bahasa Indonesia, dianjurkan juga untuk mempelajari Bahasa Arab. Amirul Mukminin Umar Ibnu Khattab Radhiyallahu ‘anh mengatakan: “pelajarilah bahasa Arab! Sesungguhnya itu bagian dari agama kalian. Dan juga dikatakan oleh Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah: “Bahasa Arab itu termasuk bagian dari Agama. Sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Quran dan Al-Sunah itu wajib. Tidak seorang pun bisa memahami keduanya kecuali dengan Bahasa Arab.
Seperti yang dikatakan Ibnu Katsir: “yang demikian itu (Bahwa al-Quran diturunkan dalam Bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia”.
Bahasa Arab banyak meminjamkan kosakatanya ke sejumlah bahasa di Eropa, utamanya bahasa Spanyol, Portugis dan Sisilia.
Seseorang yang cakap berbahasa asing diharapkan dapat bersaing di dunia Internasional, dalam segala bidang. Seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya. Karena kebutuhan itulah kita harus cakap menggunakan bahasa asing. Setidaknya kita perlu untuk mempelajari 2 bahasa. Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Bahasa Inggris untuk bekal di dunia agar mampu bersaing dan menghadapi era globalisasi. Sedangkan Bahasa Arab untuk bekal mempelajari agama islam lebih dalam..
Sebagi penutup, saya sampaikan Motto Duta Bahasa Republik Indonesia menyatakan bahwa “Bahasa Indonesia itu wajib, bahasa daerah itu pasti dan bahasa asing itu perlu”
Wallahu’alamu bishowab.


Mukhamad Ridwan
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!