Sunday, 2 March 2014

Oleh: Ade Hidayat

Bulan Ramadhan telah tiba, dan mesjid pun mulai ramai lagi terutama oleh anak-anak. Sebelum waktu Isya tiba, anak-anak itu telah datang ke mesjid untuk berebut tempat shalat. Seperti kebiasaan, ketika menunggu shalat, mereka berlari-larian, bercanda, dan bermain apa saja yang bisa mereka lakukan. Sepertinya memang itulah yang mereka harapkan, ingin bermain-main, karena kapan lagi mereka bisa bermain-main di mesjid bersama teman-teman sebanyak ini? mereka bisa berlari sesuka mereka, dan biasanya orang-orang tua pun jarang  melarang anak-anak tersebut, dan kalaupun melarang hanya sekedarnya saja, karena mereka pun maklum akan keramaian yang biasa terjadi setahun sekali ini.
Di hari pertama Ramadhan, ketika mendengar suara adzan berkumandang, aku pun berangkat ke mesjid untuk menjalankan ibadah shalat isya dan salat Taraweh berjamaah. Di mesjid, keadaan begitu ramai dan penuh. Maklum, hari-hari pertama biasanya masih penuh, tapi biasanya minggu ke dua dan ketiga mulai jarang lagi, dan minggu terakhir kadang ramai, atau bahkan lebih sepi lagi karena biasanya orang-orang telah sibuk untuk mempersiapkan lebaran. Aku kaget juga ketika sampai di Mesjid, ternyata tempat sudah penuh dan ada juga beberapa orang yang menggelar tikar di samping mesjid untuk mengikuti shalat tarawih berjamaah. Melalui jendela, aku berusaha mencari tempat di dalam yang kira-kira bisa untuk satu orang lagi, tapi ternyata tidak ada lowongan, penuh.
Ketika berusaha mencari tempat itu, ada tetanggaku yang mengusulkan untuk mengikuti berjamaah dari luar saja, dengan menggelar tikar/koran. Aku setuju, lalu kami mengambil koran dan sajadah dan jadilah kami solat di pinggir mesjid.
Di hari berikutnya, aku berangkat lebih awal, dan aku bisa masuk ke dalam mesjid walaupun penuh juga, tapi aku bisa lebih tenang dari pada malam kemarin ketika di luar. Di dalam ini, aku mendapat shaf hampir paling belakang, yang di shaf ini banyak anak kecilnya yang selalu ribut, membuat buyar konsentrasi ibadah. Tapi mau bagaimana lagi, anak-anak itu susah diatur.
Di sini ada hal yang menurutku sangat menarik, mungkin ini sudah biasa, tapi ini menjadi luar biasa saat kupikirkan dan rasanya aku tidak akan bisa melakukannya..
Di sebelahku ada seorang ayah bersama anaknya yang masih kecil sedang melakukan shalat tarawih berjamaah. Karena mereka tepat berada di sebelahku, maka mau tidak mau aku melihat tingkah anak itu yang tak bisa diam sedikitpun. Dimulai ketika ayah dan anak itu masuk mesjid, sampai berada di sebelahku, aku perhatikan ayah  dan anak itu, karena kuakui anak itu cakep juga, dan si ayah pun terlihat berwibawa dan gagah. Tapi kuperhatikan pula bahwa si anak begitu terlihat ‘sangat agresif’, tak sedetikpun ia diam dan mengikuti shalat tarawih dengan baik, melainkan dia selalu saja berisik, berjalan, berlari, dan kadang tertawa dengan temannya yang lain.
Tadinya aku tidak memperdulikan tingkah anak itu, tapi lama-kelamaan, tingkahnya itu menjengkelkan juga, bahkan sering juga lewat di depan ku, dan jika hendak sujud, aku atau pun si ayah tadi harus menunggu si anak menyingkir terlebih dahulu. Ketika rakaat shalat telah beres, si ayah mengingatkan anaknya agar tidak jalan-jalan dan mengikuti shalat dengan baik, pertama si anak nurut, dan meng-iya-kan, tapi kenyataannya tetap seperti biasa, jalan-jalan dan mengganggu saja, sekali-sekali menaiki ayahnya yang sedang sujud atau rukuk, duduk di pangkuan ayahnya ketika sedang duduk akhir, atau duduk di tempat sujud.
Aku yang tidak diganggu secara langsung saja merasa jengkel terhadap anak itu, ingin rasanya aku pindah tempat shalat, tapi semua tempat telah penuh. Akhirnya mau tidak mau, aku harus mengikuti setiap kegiatan anak itu, yang jelas sekali itu pun menggangguku.
Bukan satu dua tiga kali si ayah tersebut mendapat beban dipunggungnya saat sujud, atau saat rukuk. Tapi yang membuat menarik, si ayah tersebut begitu sabar menghadapi anaknya itu. Dari raut mukanya tidak terlihat kebencian atau kejengkelan terhadap anaknya bahkan ia tetap menasihati anaknya itu dengan senyum dan dengan penuh kasih sayang, Subhanallah begitu hebatnya. Begitu sabarnya orang tua itu menghadapi kenakalan anaknya. Kalau aku, mungkin sudah marah-marah atau bahkan sudah kupukul anak itu.
Menjelang witir, anak itu makin menjadi-jadi tingkahnya, tidur-tiduran di depan tempat sujud ayahnya, lalu lari ke depan orang lain yang sedang solat, secara berulang-ulang, dan akhirnya anak itu menangis karena terantuk alas solat dan terjatuh. Melihat hal itu, si Ayah tadi langsung memangku anaknya kemudian keluar mesjid, tanpa  menyelesaikan witirnya. Mungkin kesabarannya hilang setelah melihat si anak mengganggu orang lain.
Aku tidak mengetahui kelanjutan nasib anak tadi, tapi yang pasti aku yakin bahwa ayah tadi tidak akan memarahi anaknya, paling juga hanya menasihatinya saja.
Setelah tarawih dan witir selesai, aku tidak langsung pulang, tapi tadarusan dulu di mesjid. Di sela-sela tadarusan, aku sempat berfikir dan teringat juga tentang kejadian tentang kesabaran ayah tadi, aku berfikir mungkin dulu pun aku seperti itu, bahkan  bisa dipastikan seperti itu. Aku merenung, betapa sabarnya orang tua ku juga, mengajakku ke masjid, yang sebenarnya aku begitu merepotkan. Tapi pasti orang tuaku (juga orang tua tadi berharap pada anaknya) berharap aku akan terbiasa untuk shalat ke masjid,  walaupun orang tuaku harus bersusah  terlebih dahulu.
Lama sekali aku merenung, sampai tak terasa orang yang tadarusan sudah pada pulang dan tinggal aku sendirian di masjid. Kutengok jam dinding, sudah jam 11.30 malam. Masih dengan mengingat kejadian tadi, samar-samar aku melihat si Ayah tadi dengan anaknya sedang solat pada shaf paling depan, dan anehnya, anak yang sejak tadi mengganggu shalat orang tuanya itu kini terlihat begitu baik, mengikuti setiap gerak ayahnya. Aku jadi terharu melihat anak itu, masih kecil tapi begitu baik dan menuruti orang tuanya. Kelak pasti anak itu akan menjadi anak yang soleh. Tapi saat yang bersamaan, aku mendengar suara anak kecil di shaf paling belakang. Aku sempat  terhenyak, ketika samar-samar aku melihat juga si Ayah tadi sedang shalat dengan anaknya, tapi terlihat berbeda dengan yang shalat di depan, anak si Ayah ini terlihat berlari-lari mengelilingi ayahnya yang sedang shalat, sesekali anak itu menaiki punggung ayahnya jika sedang sujud.
Aku terhenyak saat tersadar bahwa aku tidak melihat siapa-siapa baik di depan maupun di shaf  belakang. Aku segera keluar dari mesjid untuk pulang, aku tidak mau lama-lama melihat bayangan-bayangan tadi.
Sebenarnya aku masih saja berpikir tentang anak tadi, apakah aku dulu seperti itu? wah merepotkan sekali aku pada orang tuaku. Aku jadi teringat pada ayahku yang telah tiada, yang dulu telah banyak aku susahkan. Ayah, semoga kau dapat melihatku yang baru pulang dari mesjid ini. Aku ke mesjid ini juga adalah hasil kerja kerasmu mendidikku, bersabar dengan segala kenakalanku, dan dengan kasih sayang mengajarkan pentingnya untuk memakmurkan mesjid. Ayah, aku janji, setiap langkahku ke mesjid ini, kau pun akan menuai pahala darinya. Amin.





Kata yang selalu terucap dari mulutku adalah Dia. Nama yang selalu ada dalam pikiranku adalah Dia. Dan setiap aktivitas yang kulakukan pun kuniatkan untuk Dia. Dia, Dia dan Dia. Dia yang membuat makanku tak enak, tidurku pun tak nyenyak. Setiap saat wajahnya selalu terbayang di mata dan pikiranku. Dia hampir saja membuatku gila. Jika saja tidak ada Tuhan di dekatku, mungkin aku sudah gila saat ini. Di setiap sepertiga malam aku selalu mengadu dan bercerita kepada Tuhan tentang Dia. Tentang suaranya yang halus, tertawanya yang renyah, tentang senyumnya yang menawan dan hal apapun tentang Dia, selalu kuceritakan kepada Tuhan.
Pagi itu, tak sengaja aku melihat Dia tengah mengobrol di saung dekat lapangan utama kampus dengan teman-temannya. Sebetulnya aku sengaja mencari Dia karena aku ingin sekali melihat Dia. Tapi aku tak berani mendekat. Aku hanya menikmati keindahanya dari jauh. Hingga tak sengaja pandangannya beradu dengan pandanganku.
“Ah hatiku rasanya mau copot, Tuhan.
Matanya sangat bening dan pandangannya menunjukan kharisma agung seorang perempuan. Kucoba tuk pergi namun Dia memanggilku. “Oh Tuhan, seperti terbang rasanya hatiku ketika Dia menyebut namaku.” Terpaksa aku harus berhadapan dengan Dia, suatu hal yang sangat kuhindari. Hatiku meleleh bila berada di dekatnya. Diibaratkan penyakit, cintaku ini sudah mencapai stadium empat, yang mendapat vonis tidak ada harapan lagi untuk disembuhkan.
Dia melangkah semakin dekat kepadaku. 10 meter, 9 meter, 8 meter….2 meter hingga 1 meter Dia berada di depanku. Tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing dan kakiku lemas tak kuasa menopang berat badanku. Sayup-sayup ku mendengar Dia berteriak memanggil namaku ketika ku terjatuh tak sadarkan diri.
Tuhan, mengapa aku harus mengalami hal ini? aku takut rasa cintaku kepadanya akan memalingkanku dariMu. Aku takut cintaku yang amat sangat kepadanya suatu saat akan berubah menjadi dendam. Padahal Kau telah mengingatkan kepada hambaMu, “Cintailah sesuatu sewajarnya, karena bisa jadi besok ia akan menjadi sesuatu yang kau benci.” Aku tak mau hal itu terjadi kepadaku dan kepada Dia.
Aku tahu Kau selalu mendengar keluhanku, Tuhan. Tak hanya mendengar, tapi Kau juga memberiku solusi. Aku yakin hal yang kukatakan pagi itu adalah solusi yang Kau berikan. Ketika ku terbangun dari pingsan, ku dapati Dia berada di sampingku. Kulihat wajahnya panik dan cemas. Mungkin Dia menghawatirkan keadaanku, semoga saja, pikirku. Melihat aku tersadar, wajahnya terlihat cerah kembali dan langsung menanyakan keadaanku.
Ku jawab “Baik-baik saja, terimakasih telah menghawatirkanku. Kutatap wajahnya dalam-dalam. “Aku minta maaf telah merepotkanmu.”
“Tak apa-apa, aku malah senang bisa membantu. Tapi...., kenapa kau terjatuh ketika ku dekati?” Dia bertanya kepadaku.
“Dag..dig..dug.. Jantungku berdegup kencang. Ingin kukatakan yang sebenarnya, tapi aku tak mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Ku hanya terdiam.
“Kenapa?” Dia ulangi pertanyaannya.
Ku pejamkan mata lalu kupanggil nama Tuhan di dalam hatiku. Tiba-tiba hal yang aneh terjadi kepadaku. Aku seperti berada di sebuah taman yang sangat indah. Dihiasi bunga yang berwarna-warni dan beraneka ragam jenis. Di bawahnya sungai berair jernih mengalir deras. Nyaman sekali berada di sini. Apakah ini yang namanya surga? Entahlah. Kurebahkan tubuhku di rerumputan. Kutarik nafas dalam, lalu kuhembuskan. Hal itu berulang-ulang kulakukan. Membuat diriku semakin nyaman dan semakin nyaman. Tak ingin rasanya ku beranjak dari sini. Tapi aku merasa di luar sana ada sesuatu yang menungguku. Entah apa atau siapa. Sebuah tangan halus menyentuhku. Lalu kudengar suara. “katakan saja isi hatimu.” Kurasakan kekuatan besar membangunkanku. Seketika itu juga meluncur kata-kata yang ingin sekali kuungkapkan.
“Sebetulnya dari dulu aku menyintaimu, bersediakah kau menikah denganku?”
Hening sejenak. Lalu terdengar sebuah jawaban. “Iya aku bersedia.” Kata-kata itu meluncur menyejukan hatiku. Akhirnya aku tahu ternyata Dia juga menyukaiku dari dulu. Kemudian kami merencanakan untuk menikah bulan depan, setelah kedua orang tua kami saling bertemu.
“Begitulah Tuhan, cerita cintaku dengan Dia. Aku mohon ampun karena hampir satu bulan ini aku tak pernah bercerita lagi kepadaMu. Karena aku ingin memberikanMu surprise Tuhan. Kau mau tahu? Aku telah menikah dengan Dia.
“Sayaaang..... Terdengar suara yang sangat lembut dari belakang. “Hm.. Kau ini lucu sekali sayang, pasti Tuhan sudah tahu kita telah menikah. Tuhan kan maha tahu.
“Oh, sayang, kau sudah bangun? Ayo amini doa ini”.
*****
Bismillahirrahmaanirrahim….
Ya Allah jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku
Pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepadaMu,
Agar bertambah kekuatanku untuk menyintaiMu…

Ya muhaimin, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku
Menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu
Agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta nafsu…

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati jagalah hatiku
Padanya agar tidak berpaling daripada hatiMu
Ya Rabbul izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku
Pada seseorang yang merindui syahid di jalanMu…

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasihMu
Janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan
Indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirMu…

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasihMu
Jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam
Perjalanan panjang menyeru manusia kepadaMu…
Aamiin.
*****

Pandeglang, 7 Desember 2011

Thursday, 30 January 2014

Azan



Soleh, itulah namanya. Umurnya baru 10 tahun. Tapi tidak seperti kebanyakan anak seusianya yang masih senang bermain, Soleh lebih memilih menghabiskan waktunya dengan belajar dan menemukan sesuatu hal yang baru. Soleh penuh dengan rasa ingin tahu. Tanya ini tanya itu, sehingga kedua orangtuanya pun angkat tangan, tak kuasa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anaknya. Selain itu, perilakunya pun mencerminkan namanya. Dia berbakti kepada kedua orangtuanya, tidak sombong, dan rajin menabung. Dia juga rajin sekali sembahyang di masjid. Entah dari mana dia mewarisi sifat seperti itu. Orangtuanya pun heran dengan kelakuan anaknya. Namun setiap kali dia pulang shalat dari masjid, dia selalu mengeluh kepada ibunya.
“Mah, setiap Soleh shalat di masjid, jamaahnya kok sedikit ya? Paling banyak cuma 5 orang, itu pun sudah bau tanah semua, alias kakek-kakek.”
“Mungkin mereka sibuk nak, jadi tidak sempat sholat di masjid.” Jawab ibunya.
“Tapi mah, Soleh lihat banyak kakak-kakak yang masih nongkrong-nongkrong di warung, padahal lagi azan. Kenapa mereka gak cepet-cepet pergi ke masjid mah? Kan ustadz Mahmud pernah bilang kalau di masjid lagi azan, kita disuruh cepet-cepet pergi ke masjid, tinggalkan semua aktivitas untuk solat.”
“Hmm, mungkin mereka sholatnya di rumah, sayaang…”
“Tapi kan sholat berjamah di masjid itu lebih baik dari pada sholat sendirian mah?”
“Emmm…. Mungkin...” sang ibu berfikir sejenak. “Coba kamu tanya pak ustadz Mahmud.”
Begitulah, setiap kali tak bisa menjawab pertanyaan anaknya, ibu selalu menyuruh Soleh bertanya kepada ustadz Mahmud, guru mengajinya.
Pada suatu hari. Ketika waktu asyar tiba, Soleh bergegas pergi ke masjid untuk mengumandangkan azan. Biasanya ustadz Mahmud yang azan, namun kebetulan hari itu, sang ustadz sedang pergi keluar kota mendapat undangan untuk mengisi ceramah. Oleh karena itu ustadz Mahmud menyuruh Soleh untuk azan di masjid sebelum dia pergi.
“Bismillahirrahmaanirrahim..” Soleh mulai mengeluarkan suaranya.
“Allahu akbar.. Allaaahu akbar!
Asyhaduallailaahaillallaaaah…
Asyhaduanna Muhammadarrasulullaaah….”
Selesai azan, satu orang kakek tua renta datang. Soleh melanjutkan dengan sholat sunah rawatib. Sambil menunggu jama’ah yang lain, Soleh duduk sambil berdzikir. Lima menit menunggu, tak ada satupun yang datang. Soleh mulai resah dan gelisah.
Sang kakek berkata “Soleh, ayo qomat, kita mulai saja.”
“Nanti dulu kek, kita tunggu 5 menit lagi, siapa tau ada yang datang.”
Namun, 5 menit berlalu, tak ada lagi yang datang. Soleh bangkit dari duduknya menuju speaker. Bukannya qomat, Soleh malah mengumandangkan azan kembali, namun kali ini berbeda, dia azan dengan versi bahasa Indonesia.
“Allah maha besar, Allah maha besar…
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allaaaaah….”
Seketika itu juga terdengar suara derap langkah kaki dan suara teriakan dari luar.
“Hei! siapa itu yang azan!?” salah satu warga berteriak.
“Aliran sesat!” warga yang lain menimpali.
“Bakar hidup-hidup!”
“Kami tidak rela islam dinodai!”
Warga merangsek memasuki masjid. Ada yang membawa golok, kayu, bahkan bensin.
Soleh yang sudah menduga hal itu, tetap bersikap tenang, bahkan tersenyum sumringah.
“Ayo bapak-bapak, kita solat berjama’ah, waktu asyar sudah tiba.”
“Soleh! Ngapain kamu? Azan kok di mainin?” Bentak seorang warga.
“kalau bukan elu Soleh, tadinya gua mau bacok tuh orang.” Kata seorang warga yang membawa golok.
“Hehe…. Maaf bapak-bapak, awalnya kan Soleh sudah azan pake bahasa arab, tapi gak ada yang datang ke masjid. Soleh kira warga sini gak ngerti bahasa arab, jadi Soleh azan lagi pake bahasa Indonesia. Alhamdulillah, banyak yang datang. Bapak-bapak ke sini mau sholat berjamaah kan?”
Ditanya seperti itu oleh seorang anak kecil, warga-warga menjadi malu pada diri mereka sendiri. Akhirnya semua warga sholat berjama’ah di masjid pada hari itu.
^_^
***
Pandeglang, 8 Desember 2011

Saturday, 25 January 2014

Pengendalian Diri


Seekor ular masuk ke dalam tempat kerja seorang tukang kayu, setelah ia kian kemari mencari mangsa di sore hari.

Sudah menjadi kebiasaan tukang kayu itu meninggalkan sebagian alat-alat kerjanya di atas sebuah meja. Di antaranya ada sebuah gergaji.

Di tengah-tengah pencariannya ke sana sini, tubuhnya lewat di atas sebuah gergaji. Hal itu membuat kulitnya sedikit terluka. Ular itu jadi kesal. Sebagai bentuk balasan ia dengan segera mematuk gergaji dengan kuat. Dia berusaha menggigitnya. Perbuatan itu justru membuat darah mengalir dari mulutnya.

Ular itu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia berkeyakinan gergaji itu menyerangnya. Dia merasa bahwa dirinya pasti mati. Tapi ia tidak ingin mati begitu saja. Harus ada perlawanan akhir yang mengerahkan seluruh kemampuan. Tidak boleh menyerah begitu saja.

Lalu ia melilit gergaji itu sekuat-kuatnya. Dia berusaha melumat gergaji dengan kekuatan badannya.

Ketika tukang kayu bangun di pagi hari ia melihat gergajinya. Dan di sampingnya ada ular yang sudah mati. Tidak ada penyebabnya selain marah dan emosinya.

Pelajaran:

Kadang-kadang di saat marah, kita berusaha untuk melukai perasaan orang lain. Setelah semua berlalu dan kesempatan telah tiada kita baru tahu bahwa yang kita lukai sebenarnya diri kita sendiri.

Oleh karena itu, kemarahan itu adalah setan yang menguasai akal kita. Dia mengendalikan perasaan kita yang membuat perkataan dan perbuatan kita bagaikan orang tak waras. Hingga kita tidak menyadari apa yang kita ucapkan dan lakukan ketika marah.

Sudah sepantasnya kita ikuti tuntunan Rasulullah di saat marah. Kita ucapkan istighfar, kemudian kita merubah posisi supaya bisa mengendalikan emosi. Kalau perlu pergi berwudhu' mendinginkan anggota tubuh dan perasaan. Kalau belum juga teredam, shalat sunat dua rakaat dan baca al Qur'an serta tadabburi.

Bila cara seperti itu belum juga bisa membendung kemarahan, waspadailah kalau-kalau kita bukan kesetanan lagi. Tapi sudah berubah menjadi setan sebenarnya. Karena setan justru marah bila dibacakan ayat al Qur'an.

Di awal rasa marah itu muncul seseorang harus mengendalikan dirinya. Kalau tidak, ia akan kehilangan kewarasan hingga akhirnya tidak mampu menguasai diri.

Betapa banyak rasa marah sesaat yang mengakibat penyesalan seumur hidup. Bahkan penyesalan sampai ke akhirat.
Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari rasa marah yang mengalahkan kemampuan akal untuk menguasai diri. Lebih penting dari itu, semoga Allah menyelamatkan kita dari segala yang menyebabkan kemarahan.

http://www.pkspiyungan.org/2014/01/mengendalikan-diri.html

Friday, 27 December 2013







"Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, tapi berikan penghapusnya kepada Allah. Izinkan Dia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantikannya dengan rencana-rencana yang indah".

Sejatinya setiap manusia itu memiliki cita-cita dan harapan, iya kan?. Namun kebanyakan kita-kita tidak pernah membawa cita-cita dan harapan tersebut pada Allah. Akibatnya cita-cita hanyalah sekedar cita-cita dan harapan pun demikian. -Jadi harus gimana atuh?-. ya bawa dong ke Allah!. -udah ko sering ngedo'a tiap habis sholat!-.
Secara SOP ya memang demikian, kita diperintahkan untuk meminta hanya kepada-Nya, jangan ke yang lain!. Tapi kan gak ada salahnya kita tunjang doa-doa kita itu dengan cara yang lebih bisa membuat kita terkontrol untuk berada dalam jalur yang benar dalam meraih hal yang kita cita-citakan, salah satunya dengan menuliskannya pada selembar kertas sehingga menjadi pengingat bahwa kita memiliki target seperti apa yang tertulis di
dalamnya. Dengan membuat proposal hidup tujuan kita akan lebih terarah. kita akan memiliki acuan tentang apa yang harus kita lakukan karena kita memiliki dorongan untuk mencapai target-target yang kita inginkan sesuai dengan apa yang kita tulis dalam proposal hidup kita kan? bener gak?.
Berikut ini adalah proposal hidup yang saya buat.

Latar Belakang
(AL-Hasyr:18)
  يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ 
“Yaa Ayyuhalladziina aamanuttaqullaaha waltandzur nafsummaa qoddamat ligod. Wattaqullaaha innallaaha khobiirummbimaa ta’maluun”
“Wahai orang-orang yang beriman!. bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan apa yang telah dan akan kita perbuat untuk hari esok. Oleh karena itu, segala hal dan setiap apa yang kita lakukan harus berdasarkan perencanaan. Perencanaan yang kita lakukan harus mempertimbangkan kebaikan kita untuk hari esok (masa depan; dalam ayat ini untuk hari akhirat). Begitu pula dengan kehidupan kita, harus berdasarkan perencanaan yang matang. Mencakup Karir masa depan, mulai dari kapan lulus kuliah, mempunyai bisnis sendiri, menikah sampai menjelang ajal. karena ada sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa “gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan”. Saya tidak mau kehidupan saya berakhir dengan kegagalan.
Saya serahkan proposal hidup saya kepada Allah, biarlah Allah yang akan mendanai dan menentukan masa depan saya. Akhirnya, saya memohon kepada Allah SWT., agar perencanaan ini berjalan sesuai dengan rencana. Aamiin.

PROPOSAL MASA DEPAN MUKHAMAD RIDWAN
Ada 5 gelar yang saya ingin menyemat kepada diri saya di masa depan nanti:
1. AlHafidz : Tekad saya sebagai seorang hafidz qur’an 30 Juz.
2. Guru besar: di masa depan saya meraih gelar Profesor dan Doktor.
3. Ulama Inspirator: Memiliki sebuah pesantren terpadu, sekaligus memiliki lembaga training yang menginspirasi perubahan pada banyak individu.
4. Penulis Produktif: Saya menelurkan banyak karya tulis produktif yang menginspirasi perubahan.
5. Pengusaha Sukses : Untuk penghidupan saya berharap menggantungkan diri dari bisnis, bukan dari menjadi guru atau yang lain. Sehingga aktivitas saya sebagai guru dapat menjadi lahan amal. Saya akan memiliki korporasi bisnis, meliputi taman belajar, lembaga pendidikan, bisnis kuliner dan lainnya.
Pada tahun 2013
Menjadi lulusan UNTIRTA jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dengan predikat sangat baik dan Hafidz qur’an 2 juz.
Pada tahun 2014-2015
Dengan beasiswa yang saya dapatkan, saya melanjutkan S2. Sambil melanjutkan pendidikan S2, saya akan menikah. Istri saya adalah seorang wanita sederhana dari keluarga harmonis yang biasa-biasa saja. Dia cantik namun natural, solehah, faham tentang bagaimana caranya mendidik dan membina walaupun tidak harus berprofesi sebagai guru. Seorang murobiyyah yang mengelola kelompok halaqah. Usianya lebih muda 1 tahun atau seumuran atau lebih tua 1 tahun dari saya. Kemudian saya dan istri mulai merintis bisnis di bidang fashion.
Pada tahun 2016
Istri saya sudah melahirkan seorang anak (perempuan atau laki-laki, terbaik menurut Allah). Saya telah menjadi guru di suatu sekolah, di tempat tersebut saya akan mengabdikan diri. Selain menjadi guru di sekolah, malamnya mengajar ngaji bagi anak-anak kampung. Waktu yang kosong saya manfaatkan untuk menghafal qur’an. Waktu senggang yang lain untuk menulis buku yang inspiratif. Saya juga mulai menabung untuk naik haji.
Pada tahun 2017
usaha yang saya rintis berhasil dan menjadi pengusaha sukses. dari hasil usaha, saya mampu bersedekah sebanyak 1 juta perbulan dan kemudian membeli rumah.
Pada tahun 2018 – 2019
mempunyai rumah pribadi. Berlantai 2, dan mempunyai taman yag luas. Kemudian Istri saya melahirkan anak yang kedua.
Pada tahun 2020-2030
Saat itu saya telah memiliki keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dengan 1 istri dan 5 anak yang hafidz dan hafidzah (2 Laki-laki dan 3 perempuan) Saya juga memiliki 20 anak asuh di rumah sederhana yang saya bangun, rumah yang tidak megah, namun nyaman dan asri dipenuhi keceriaan para penghuninya.
Saya akan membangun sebuah pesantren modern. Saya telah dikenal sebagai seorang imam AlHafidz. Selain itu aktif sebagai Inspirator motivator, dan tetap produktif menulis.
Saya telah memiliki
korporasi bisnis.
Pada tahun 2030-2039
Impian saya yang terpendam untuk keliling berbagai Negara. Saya akan bertualang bersama istri dan anak-anak saya ke Baghdad, Palestina, Mesir, Turki, Spanyol, dan negara-negara di seluruh dunia.
Pada tahun 2040
Daulah Khilafah Islamiyyah, Negara Islam yang dinantikan itu telah berdiri
Saya akan membangun komplek yang berisi rumah sakit, pesantren modern, panti asuhan, masjid, markas dakwah, hotel, dan taman rekreasi ilmiah.
Saya telah menjadi guru besar di
sebuah universitas sekaligus ulama yang memiliki kemampuan ijtihad.
Pada tahun 2050
Saya mati syahid dalam sebuah pertempuran fisabilillah dalam umur 61 tahun disaksikan dengan bangga oleh istri dan anak saya.
Sekian.

Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah..
Karena Dia yang akan menghapus bagian yang salah dan menggantinya dengan yang terbaik untukmu..
Rencanakan kehidupanmu dan laksanakan apa yang menjadi keinginanmu, namun tentang hasilnya berserah dirilah kepada Allah.. Karena Dia Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukmu, andai keinginanmu baik untuk masa depanmu Allah akan memberikan, namun bila tidak baik Insya Allah Dia akan menggantinya dengan yang terbaik untukmu..
Ya Allah andai keinginanku Engkau kabulkan,
beri aku rasa syukur untuk menerima hal yang baik atas diriku, jangan Engkau lalaikan diriku dari mengingat-Mu..
Andai keinginanku bukanlah yang terbaik untukku
, berikan aku ketenangan untuk menerimanya, keberanian untuk mengubahnya dan kebijaksanaan untuk melakukannya agar Engkau menggantikan yang terbaik untukku..

Aamiin.. Semoga menginspirasi dan memotivasi dalam kebaikan.
Ini Planningku.. Mana Planningmu??

Monday, 25 November 2013

Jatuh Cinta pada Sebuah Nama: Cahaya Senja

Aku jatuh cinta? Ya, Aku jatuh cinta pada sebuah nama; Cahaya Senja.
Benih - benih cinta itu mulai tumbuh sekitar dua tahun yang lalu, lebih tepatnya pada tanggal 28 November 2011. Hari itu adalah hari kelahiran keponakanku (Putri dari Kakakku) yang diberi nama oleh Ayahnya, Cahaya Senja, karena lahirnya memang pada waktu senja. Sejak saat itu aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada sebuah nama. Cahaya Senja. Sejak saat itu pula, setiap hari Aku selalu menantikan sebuah momen munculnya cahaya itu, untuk kuabadikan dalam gambar ataupun hanya dalam ingatanku. Sungguh, sebuah ciptaan yang mempunyai selera dan nilai seni yang tinggi. Dan sungguh, setiap kali manusia memikirkan sebuah penciptaan, pasti akan muncul rasa kagum dan tunduk kepada ke-maha-besaran zat yang menciptakannya, yaitu Tuhan. Kuteringat pada sebuah sabda utusan-Mu. “Sesungguhnya Tuhan itu indah dan menyukai keindahan”.


Cahaya Senja. Nama yang sederhana namun syarat akan makna. Penuh filosofi.
Cahaya Senja adalah cahaya matahari sejenak sebelum tenggelamnya di ufuk barat. Cahayanya yang berwarna merah, jingga dan kuning keemasan memancarkan keindahan, kewibawaan, dan keanggunan. Cahayanya singkat, namun sangat memikat. Cahaya Senja juga adalah persembahan penghabisan dari matahari sesaat sebelum tenggelam. Dengan kata lain, seperti ungkapan Chairil Anwar; Sekali berarti sudah itu mati. Ya, berikan selalu yang terbaik dari dirimu dalam hidup ini, setelahnya barulah kamu boleh meninggalkan dunia ini dengan senyuman.
Dalam ungkapan yang lebih sederhana, Cahaya Senja adalah lambang keindahan dan kefanaan. Kefanaan bukanlah aib atau kelemahan, bukan pula sesuatu yang patut diratapi. Kefanaan adalah keniscayaan hidup di dunia. Dan hendaklah hal ini selalu disadari oleh setiap manusia.
Berbicara tentang kefanaan, tentang matahari terbenam, kedua hal tersebut berhubungan dengan satu hal yang pasti dialami oleh seluruh makhluk yang bernyawa. Yaitu kematian. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Mati itu keniscayaan. Hidup-matinya manusia sudah ditentukan oleh Tuhan, Sang Pencipta. Kita harus siap kapan saja Tuhan mau mengambil nyawa kita, menerima dengan ikhlas, tanpa protes, dan kalau perlu disambut dengan syukur dan suka cita.

Cahaya Senja dapat pula dijadikan symbol kehangatan dan cinta. Ketika senja, matahari telah kehilangan teriknya. Pada saat itu, setiap orang dapat melihat matahari secara langsung tanpa harus mengejapkan mata. Selama beberapa menit, setiap orang dapat menikmati semburat warna-warni indah di langit barat. Merah, jingga, kuning keemasan. Jika ada awan, akan muncul pula nuansa kelabu dan keungguan. Pada saat itu, hati siapakah yang tidak merasakan hangatnya cinta Tuhan? Hati siapakah dengan bodohnya masih tega menyimpan dendam?


Friday, 15 November 2013

Qiyamul Lail adalah Senjata bagi Aktivis Islam


Bacalah kisah – kisah islam masa lalu, betapa qiyamul lail menjadi senjata ampuh untuk melawan musuh – musuh islam. Semisal kisah Shalahudin Al-Ayyubi. ia tahu bahwa qiyamul lail adalah senjata ampuh di perang dan tidak ada tandingannya. Karena itu, jika ia berjalan melewati kemah anak buahnya pada malam hari dan melihat tidak ada yang mengerjakan qiyamul lail di dalamnya, maka ia membangunkan mereka dan memarahi mereka, dengan berkata, “saya khawatir, kita diserang musuh malam ini dari kemah ini.” Atau bacalah kisah Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432 – 3 Mei 1481). Seorang panglima Perang yang menaklukkan benua Eropa yang saat itu adalah seorang pemuda berusia 21 tahun,. Ia merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu’ setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di ‘Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).
Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.
Kejayaan dan kesuksesan hidup ia telah raih di usia yang begitu muda. Ia-pun dikenang jutaan manusia sepanjang abad. Harum nama Sultan Al Fatih diperoleh berkat keshalehan, keberanian dan kemuliaan akhlaknya. Sebagai jenderal beliau memimpin laskar islam menaklukkan benteng terkuat imperium Byzantium , Konstantinopel. Kota ini diubahnya menjadi kota Istambul. Dari sini beliau menebarkan kasih sayang islam di bumi eropa.
Apa rahasia dibalik semua kesuksesan beliau? Ternyata rahasianya beliau sangat kuat shalat malamnya (tahajud). Qiyamul lail itu kebutuhan utama setiap orang muslim. Apalagi, bagi aktivis islam dan pengemban amanah agama yang berat; dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan menyerukan kebenaran. Bukankah Allah telah berfirman dalam Al-Quran, yang artinya,
“Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) di malam hari kecuali sedikit (darinya). (Yaitu) seperduanya atau kurangi dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua. Dan bacalah Al-Quran dengan perlahan-lahan. “(Al-Muzzammil: 1-4)
Kenapa Allah memerintahkan kita untuk Qiyamul lail? Pertanyaan ini dijawab dalam lanjutan surat Al-Muzzammil ayat 5.
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”
Kami (Allah) akan memberikan kepadamu amanah yang sulit, beban yang berat, dan perintah – perintah yang membutuhkan tekad kuad dan semangat tinggi. Siapa sih yang yang mampu mengerjakan tugas-tugas dakwah, tarbiyah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad, tanpa bekal yang bisa ia gunakan dalam perjalanannya mengemban tugas tersebut? Tanpa bekal, sudah barang tentu perjalanannya akan terhenti di tengah jalan. Oleh karena itu Allah menyediakan bagi kita qiyamul lail sebagai bekal dan juga sebagai sekolah bagi kita untuk menimba ilmu dalam mengemban tugas – tugas dakwah tersebut.
Ketahuilah wahai aktivis islam, Qiyamul lail adalah sarana untuk mentarbiyah diri dan berkenalan dengan Tuhannya. Qiyamul lail adalah sarana untuk belajar khusuk, tunduk, merendahkan diri dan bertaubat kepada Allah ta’ala. Ketundukan anda pada malam hari adalah kunci kebesaran anda di siang hari. Sujud anda pada malam hari adalah jalan kemuliaan anda pada siang hari, senjata kemenangan anda atas musuh – musuh anda, rahasia kesuksesan anda di dakwah dan jihad anda.
Selamat mencoba..
Wallahu’alam..
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!