Narasumber merupakan salah satu alumni Untirta yang baru saja menyelesaikan program magang kerja di Jepang dari Kementrian Pemuda dan Olahraga. Mari kita langsung baca saja notulensi berikut.
Sunday, 23 July 2017
21:15
No comments
Notulensi Bincang-Bincang Bareng Alumni
Bismillah..
*Kahfi Yunus:* Nah, bagaimana saudara2 kita baik itu penduduk asli maupun pendatang bertahan dr berbagai serangan dan kesulitan beribadah dan mempertahankan akidah'a d negeri tsb. Langsung saja kita serahkan kpd pemateri kita, selaku expert yg prnah berjuang mempertahankan keimanan lgs d tempat tsb..
*Dede Taufik:* Mempersingkat waktu kita langsung bahas saja perkembangan islam di Jepang era 80' eramodern dan tantangan dakwah islam kedepan di Jepang. Islam masuk dan dikenal masyarakat jepang dimulai tahun 80' atau masa perang dunia ke II dimana kekhalifahan turki mengirim beberapa delegasi ke jepang untuk mengenalkan islam dan kerjasama militer melawan sekutu.
*Kahfi Yunus :* masuk ke sesi tanya jawab.
*Adi Nugraha:* Bgaimana cara Bg Topik Dalam menjaga pandangan d negri Jepun sana?
*Dede Taufik:* Ghadul bashar di JEPANG?
*Kahfi Yunus:* Alhamdulillah..
*Dede Taufik:* Betul sangat. Kecuali kalo tiap hari bisa jalan dengan memejamkan mata. Layaknya penyandang tuna netra. BISA?
*Adi Nugraha:* Second question, Bgaiamana toleransi beragama dsna? Baik dri pemeritahan maupun dri warga jepangnya?
*Dede Taufik:* Kalau yg saya alami masih sangat minim. Khususnya di perusahaan, pemerintahan dan pergaulan.
*Baim:* Nah tadi Bang Dede bilang cita2nya menikahi gadiz Jepang agar dakwah lebih inovatif, apakah cita2 itu masih terus dikejar? Kapan target realisasinya Bang?
*Dede Taufik:* Sudah ku duga, dikau pasti akan menyasar masalah ini.
*Arif Rahman M:* Bgini senpai, bagaiman cara kaum minoritas jepang d sna menjelaskan apa itu ISIS? Atau apa jawaban senpai saat dtnya mngenai ISIS?
*Nayev Hamudi:* Mau tanya nih...
*Teh Nihlah:* Baru aja mau nanya, bgtu juga
*Kahfi Yunus:* Oi, satu2 oi.. Tertib.. Ada sy d sini
*Dede Taufik:* Cara menjelaskannya adalah dengan menjadikan pribadi kita sebagai muslim yg toleran dan rahmatan lilalamin.
*Roby Martin:* Bagaimana tradisi zen di sana? Apakah pernah ikutan kelas meditasi di sana?
*Dede Taufik:* Saya hanya senang perayaan tradisi mereka, kalau meditasi dll saya tak pernah tertarik. Saya cuma punya pengalaman pernah di murtadkan oleh kawan saya yg beragama sinto saat saya di ajak ritual di kuil terbesar di jepang.
*Kahfi Yunus:* Weewww.. Ini menarik..
*Ahmad Firdaus:* ikut nambahin dari sisi pelajar di jepang, (ujug-ujug jd second moderator) heheheheh
*Kahfi Yunus:* Yupz jawabang sempurna dr vang @Ahmad Firdaus Utk prtanyaan teh @Teh Nihlah.
*Januar Titomi:* Adakah hal positif (sisi keislaman) yg telah saudara @Dede Taufik tanamkan kepada lingkungan sekitar atau perusahaan ktika berada di Jepang?
*Kahfi Yunus:* Krn waktunya udh mau abis, pertanyaan bang @Januar Titomi Bs d jawab skaligus ksih closing statement bang @Dede Taufik
*Dede Taufik:* Hmm.. Kalau sebatas prinsip hidup. Prinsip hidup masyarakat jepang itu sudah sangat islami. Jika warna islam yg saya tanamkan hanya di lingkungan prusahaan. Dimana saat awal saya masuk prusahaan saya minta untuk di berikan ruang ibadah, tempat wudhu dll dan itu bisa dirasakan oleh junior2 saya selanjutnya.
*Closing Statement*
*Kahfi Yunus:* Yupz demikianlah paparan semangat islam d negeri Jepang..
Friday, 26 May 2017
02:29
No comments
Alhamdulillah, Allah masih perkenankan saya untuk bertemu
dengan bulan Ramadhan tahun 2017 / 1438 Hijriyah. Sesuatu yang harus saya
syukuri. Disyukuri dengan cara memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah
kepadaNya. Apalagi di Bulan Ramadhan ini segala amal ibadah dilipat gandakan. Maka
sudah selayaknya kita memanfaatkan momen langka ini.
Membuat target ibadah selama Ramadhan bukanlah sesuatu yang
salah, malah hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan
generasi setelahnya.
Sebagai contoh, Rasulullah misalnya, lebih banyak bersedekah
dibandingkan bulan-bulan lainnya. Atau Usman bin Affan, mengkhatamkan Al Quran
dalam 2-3 hari. Imam Syafi’i khatam Al-Quran 60 kali selama Ramadhan. Maka dari
itu, saya pun membuat target ibadah yang lebih banyak dibandingkan dengan
bulan-bulan lain, tentunya tanpa menjadikannya sebagai beban dan dengan
mengukur kemampuan diri sendiri.
Berikut saya tuliskan target pribadi selama Ramadhan, sebagai
pengingat bagi diri sendiri dan dengan harapan target tersebut Allah kabulkan
dan mudahkan. Aamiin.
|
No
|
Aktifitas
|
Target
|
Keterangan
|
|
1
|
Tilawah Al Quran + Terjemah
|
6 Juz
|
Setiap hari
|
|
2
|
Hafalan Quran
|
1 jam
|
Setiap hari
|
|
3
|
Baca Buku
|
30 menit
|
Setiap hari
|
|
4
|
Tarawih
|
30 hari
|
Setiap hari
|
|
5
|
Tahajjud
|
min. 4 rakaat
|
Setiap Malam
|
|
6
|
Dhuha
|
min. 4 rakaat
|
Setiap hari
|
|
7
|
Sedekah/infak
|
Min. 10 ribu
|
Setiap hari
|
|
8
|
Dzikir Al Matsurat
|
Pagi dan sore
|
Bada subuh dan bada Ashar/Magrib
|
|
9
|
Istighfar
|
100 kali
|
Setiap hari
|
|
10
|
Sholawat
|
100 kali
|
Setiap hari
|
|
11
|
Tasbih, Tahmid, takbir
|
@100 kali
|
Setiap bada sholat fardhu
|
|
12
|
I’tikaf
|
5 kali di tanggal ganjil
|
10 hari terakhir
|
Rincian target
Tilawah
Membaca 1 juz membutuhkan waktu sekitar 50-60 menit dengan
kecepatan sedang. Agar lebih terjadwal, saya akan mencantumkan waktunya.
|
Pukul
|
Jumlah juz
|
|
03 – 04
|
1 juz
|
|
05 – 07
|
2 juz
|
|
11 – 12
|
1 juz
|
|
17 – 18
|
1 Juz
|
|
21 - 22
|
1 juz
|
Jika tidak tercapai juz di siang hari, maka saya akan
menuntaskannya di malam hari sebelum tidur.
Demikian target pribadi selama bulan Ramadhan tahun ini. Apabila
tercapai, saya akan menambah target untuk tahun depan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemari, bulan ini harus lebih baik dari bulan kemarin, dan Tahun ini harus lebih baik dari tahu kemarin. Semoga Allah mengizinkan kita semua bertemu Ramadhan tahun depan. Aamiin. InsyaAllah
Ini targetku, bagaimana
targetmu?
Saturday, 6 May 2017
21:28
2 comments
Jika mengamati kebiasaan tidur dan bangun-nya seorang bayi, terutama my krucil, Gerhana, jam berapapun dia tidur, baik itu tidur setelah magrib atau setelah isya, bahkan tidur larut malampun, dia pasti terbangun sekitar pukul 2 atau 3 atau 4 dini hari, walaupun hanya sekedar minta ASI. Dan itu membuat kami, orangtuanya ikut2an bangun. Hal tersebut terjadi hampir setiap malam. Pasti yang memiliki bayi pernah merasakannya.
Dari hal tersebut, kami menyimpulkan bahwa memang fitrah setiap manusia itu seharusnya dalam kondisi bangun di waktu sepertiga malam. Baik itu pukul 2, atau 3 atau 4 dini hari menjelang subuh.
Ada apa dengan waktu sepertiga malam?
Jawabannya ada dalam firman Allah swt dalam surat Al-Muzzammil ayat 1-3, yaitu perintah utk Qiyaamullail. Dan saya mempercayai bahwa Allah sendiri yang membangunkan hamba-hambanya di waktu tersebut dengan beberapa cara, salah satunya dengan cara yang saya sebutkan di atas.
Namun terkadang, manusia tidak peka dengan petunjuk-petunjuk dan cara -cara Allah. Ketika kita bangun di tengah malam, karena kebelet pipis. Setelah melihat jam masih pukul 2, tidur lagi. Kemudian Allah bangunkan lagi pukul 3 dengan suara alarm, juga enggak ngefek. Bangun sih, buat matiin alarm, setelah itu tidur lagi. Walhasil Sholat Subuhnya kesiangan.
Dari hal tersebut, kami menyimpulkan bahwa memang fitrah setiap manusia itu seharusnya dalam kondisi bangun di waktu sepertiga malam. Baik itu pukul 2, atau 3 atau 4 dini hari menjelang subuh.
Ada apa dengan waktu sepertiga malam?
Jawabannya ada dalam firman Allah swt dalam surat Al-Muzzammil ayat 1-3, yaitu perintah utk Qiyaamullail. Dan saya mempercayai bahwa Allah sendiri yang membangunkan hamba-hambanya di waktu tersebut dengan beberapa cara, salah satunya dengan cara yang saya sebutkan di atas.
Namun terkadang, manusia tidak peka dengan petunjuk-petunjuk dan cara -cara Allah. Ketika kita bangun di tengah malam, karena kebelet pipis. Setelah melihat jam masih pukul 2, tidur lagi. Kemudian Allah bangunkan lagi pukul 3 dengan suara alarm, juga enggak ngefek. Bangun sih, buat matiin alarm, setelah itu tidur lagi. Walhasil Sholat Subuhnya kesiangan.
Begitu pula dengan seluruh kehidupan kita. Petunjuk - petunjuk kebenaran itu selalu Allah datangkan kepada hamba-hambanya, dengan cara-cara yang mungkin tidak kita duga. Bahkan mungkin saja petunjuk itu datang dari orang-orang yang kita anggap rendah atau dari orang yang kita benci.
Jika kita lihat fenomena sekarang ini di Indonesia, khususnya kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur petahana DKI Jakarta, muncul perdebatan tentang tafsir Alquran surat Al-Maidah ayat 51. Banyak Ulama yang tidak membolehkan menjadikan orang kafir menjadi pemimpin, tidak sedikit pula ulama yang membolehkan.
Pertanyaannya adalah pendapat ulama manakah yang harus kita ikuti?
Yang manakah tafsir yang benar sesuai yang Allah maksudkan dalam surat tersebut?
Mari kita amati petunjuk-petunjuk dari ALLAH.
Pertama, aksi damai 212. Sebetulnya dari aksi ini saja, kita seharusnya menyadari petunjuk dari ALLAH kepada siapa DIA berpihak. Bagaimana kita lihat jalannya aksi berlangsung super damai, meskipun diikuti oleh jutaan orang. kemudian, orang - orang berebutan membagikan makanan, tidak ada yang kelaparan, cuaca pun sangat mendukung, apalagi saat akan melaksanakan shalat jumat, Allah mendatangkan hujan untuk berwudhu, yang mana saat itu, mobil-mobil penyuplai air, sedang kehabisan stok air. Masha Allah.
Petunjuk kedua. Kunjungan Dr. Zakir Naik ke Indonesia. Tentu ini bukan merupakan sebuah kebetulan, Dr. Zakir Naik sedang melakukan safari dakwahnya di benua ASIA, melainkan sebuah skenario dari Allah. Dengan tegas Dr. Zakir Naik mengatakan jika dihadapkan kepada pilihan antara pemimpin muslim dan kafir, maka pilihlah pemimpin muslim, meskipun pemimpin kafir tersebut mampu membangun kota 10 kali bahkan 100 kali lebih baik dari pemimpin muslim.
mungkin masih banyak petunjuk-petunjuk lainnya. So, mari kita buka mata dan hati kita agar dapat peka terhadap kode-kode kebenaran dari Sang Pencipta alam semesta.
Tuesday, 7 March 2017
20:48
No comments
Mungkin sebagian orang hanya tahu ciri ciri munafik itu ada tiga. Berdusta bila berkata, berkhianat bila dipercaya, dan mengingkari bila berjanji. Tapi sebetulnya ciri ciri munafik itu cukup banyak apabila kita perhatikan dalam AlQuran dan Hadist. Berikut diantaranya.
1. Berat melaksanakan Shalat berjamaah di masjid, terutama Shalat Isya dan Subuh.
Dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda;
"Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang MUNAFIK selain dari shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada Kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak." (HR. Bukhari no. 657)
"Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang MUNAFIK selain dari shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada Kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak." (HR. Bukhari no. 657)
2. Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin/pelindung/teman setia
Q.S An-Nisaa : 138 - 139.
"Kabarkanlah kepada orang orang MUNAFIK bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang orang yang mengambil orang orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG/TEMAN SETIA) dengan meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."
Q.S An-Nisaa : 138 - 139.
"Kabarkanlah kepada orang orang MUNAFIK bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang orang yang mengambil orang orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG/TEMAN SETIA) dengan meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."
Mari introspeksi diri dan bertaubatlah.
20:32
No comments
Pada setiap zaman, Allah mengirimkan wakilnya di bumi untuk menjaga AlQuran, menjadi pembela dan meluruskan segala bentuk penyimpangan. Allah sendiri telah berjanji akan menjaga dan memelihara AlQuran. Hal tersebut termaktub dalam firmanNYA:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan memeliharanya dari penambahan, pengurangan, maupun pengubahan (Asy-Syinqithi t, 2/225)
Tidak seorang pun yang berusaha memalingkan salah satu makna pada Al-Qur’an, melainkan Allah Subhanahu wata’ala pasti mendatangkan orang yang akan menjelaskan kebenaran yang nyata. Ini merupakan salah satu tanda keagungan ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala dan kenikmatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin.
Kita ambil contoh misalnya ketika ada pernyataan dan pemahaman bahwa ALQURAN ITU MAKHLUK, yang dilontarkan oleh penguasa kala itu yaitu khalifah Al-Makmun yang mulai menyeruak pada tahun 212 Hijriyah. Pernyataan tersebut dipaksakan kepada rakyatnya untuk diyakini dan diikuti. Jika tidak mau mengikuti keyakinan sang penguasa, maka harus siap mendapat intimidasi dan penyiksaan. Tak terkecuali kepada para ulama pada masa itu.
Untuk menjaga dan memelihara AlQuran dari pemahaman sesat tersebut, Allah memilih Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sebagai wakilnya di bumi untuk meluruskan penyimpangan tersebut.
Untuk menjaga dan memelihara AlQuran dari pemahaman sesat tersebut, Allah memilih Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sebagai wakilnya di bumi untuk meluruskan penyimpangan tersebut.
Meskipun para ulama lain dgn terpaksa melakukan "taqiyyah" (berpura-pura), menuruti keinginan sang penguasa karena diancam dan tidak tahan dengan siksaan yang mereka terima, Namun, Imam Ahmad tetap kokoh dan teguh pada pendirian dan mempertahankan keyakinannya bahwa AlQuran adalah firman Allah, bukan makhlukNya. Bila saja waktu itu Imam Ahmad menyerah pada penguasa, mungkin sampai hari ini kita juga akan meyakini bahwa AlQuran itu Makhluk.
Baca kisah selengkapnya di https://ahmadbinhanbal. wordpress.com/2010/12/20/imam- ahmad-dan-fitnah-khalqul- quran-di-masa-al-makmun/
Dan hari ini, di Indonesia, (kasusnya kita semua pasti tahu) menyeruak sebuah pernyataan dan pemahaman bahwa diperbolehkannya bagi muslim untuk memilih pemimpin kafir. Bahkan ada pernyataan "Lebih baik memilih pemimpin kafir tapi jujur, dari pada pemimpin muslim tapi korupsi". Padahal Allah telah berfirman di banyak ayat-ayatnya (Almaidah : 51 dan 57, An-nisa :138 dan 144, Al-Imran : 28 dan 149-150, At-taubah : 23, Al-Mujadalah : 22) tentang larangan menjadikan kafir sebagai pemimpin.
Bila hari ini kita diam dan mengikuti pemahaman yang menyimpang tersebut, apa jadinya dengan pemahaman anak dan cucu kita nanti?
Dan bisa jadi Allah telah memilih Habib Rizieq Shihab dan kawan kawannya sebagai wakilNya di bumi Indonesia ini sebagai janji Allah untuk memelihara AlQuran.
Dan bisa jadi Allah telah memilih Habib Rizieq Shihab dan kawan kawannya sebagai wakilNya di bumi Indonesia ini sebagai janji Allah untuk memelihara AlQuran.
Wallahu'alamu bishawab..
Thursday, 23 June 2016
21:02
No comments
Alhamdulillah, kita sudah memasuki pertengahan Bulan Ramadhan dan sebentar lagi memasuki 10 hari terakhir. Fenomena yang
biasanya terlihat adalah adanya progress / kemajuan dalam shaf jama'ah solat.
Maksudnya adalah shaf-nya makin maju, karena jama'ahnya berkurang. Wkwkwk..
Ramadhan adalah bulan tarbiyyah atau pendidikan. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mendidik diri kita dan anak-anak kita untuk memiliki kebiasaan shalat berjama'ah di masjid, terutama untuk anak laki-laki.
Ramadhan adalah bulan tarbiyyah atau pendidikan. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mendidik diri kita dan anak-anak kita untuk memiliki kebiasaan shalat berjama'ah di masjid, terutama untuk anak laki-laki.
Kita bertanggungjawab mengajarkan anak untuk sholat, karena itu
merupakan salah satu amanah yang sangat penting dan berat bagi orang tua.
Mengajar dan mendidik anak untuk sholat tidak semudah kita mengajarkan ABC atau
123.
Realitas yang terjadi sekarang adalah, anak sangat susah apabila disuruh
solat, dan lebih memilih bermain gadget atau menghabiskan waktunya di warnet.
Kenapa hal itu terjadi? Tanyakan pada diri anda sendiri, atau pada rumput yang bergoyang.
Berikut, beberapa hal yang harus dilakukan untuk membiasakan shalat pada anak.
1) Ibu bapak teladan yang baik.
Kenapa hal itu terjadi? Tanyakan pada diri anda sendiri, atau pada rumput yang bergoyang.
Berikut, beberapa hal yang harus dilakukan untuk membiasakan shalat pada anak.
1) Ibu bapak teladan yang baik.
Ibu bapak ialah teladan yang terbaik dan terdekat untuk diikuti oleh
anak. bapak yang slalu pergi ke masjid, dan mama-nya yang slalu siap, ketika
mendengar adzan dan mengatakan pada anak untuk sholat berjema'ah merupakan cara
yang paling efektif untuk membiasakan shalat pada anak.
Jangan pernah menyuruh anak untuk shalat, sedangkan kita masih asyik
menonton televisi atau mengerjakan hal yang lain, karena itu akan menjadi
alasan bagi anak untuk menolak perintah tsb. Ajaklah anak bersama anda untuk mengerjakan sholat
secara berjama'ah.
Kebiasaan shalat harus dimulai sejak dini, bahkan ketika bayi masih
dalam kandungan atau baru lahir.
Untuk umur anak 0 – 2 tahun, wujudkan suasana yang shaleh shalehah.
Biarpun anak-anak ketika kecil, belum faham dan mengerti, tapi
lingkungan yang islami akan menjadikan suasana biasa. Dia terbiasa melihat ibu
dan bapaknya shalat tepat waktunya, shalat berjama'ah, dan tau tentang adzan
dan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-qur’an. Berkata-lah dengan kata
menyenangkan dan juga bercerita dengan sianak, contohnya ”Tunggu di sebelah
Ayah / ibu ya nak, Ibu mau shalat.” Atau bisa juga ”Terima kasih anakku
sayang karena telah tunggu Ayah/ibu shalat.”
Ajaklah anak anda ketika berumur anak 2 – 3 tahun.
Ajaklah anak anda ketika berumur anak 2 – 3 tahun.
Kita sebagai ibu dan ayah tidak perlu merasakan jenuh untuk slalu
mengajak anak shalat. Biarpun mereka tidak biasa dengan ajakkan kita. Walau
mereka hanya mendengarkan dan tiada mengikuti, teruslah menyebut tiap kali kita
mau shalat. ”yukk ikut Ummi/Abi shalat!”
Untuk anak umur 4 – 6 tahun – tanamkan kepada anak tentang buat apa kita
shalat?
Telah tiba waktunya buat ibu ayah berkisah tentang pentingnya shalat
pada anak anda. Mengajarkan anak lewat dongeng atau cerita, bisa memberi
gambaran yang bagus dan jelas pada anak. Katakan pada anak-anak secara sering tentang masjid.
Ajaklah anak ke masjid. Kenalkan ahklak adab-adabnya, shalat jama'ah, hubungan
sosial masyarakat dengan jama'ah yang lain dan lain sebagainya.
Kepada umur ini pula ibu ayah telah bisa mengantar anak ke TK Islamiyah yang mengajarkan anak tentang shalat biar anak lebih mengerti dan senang untuk shalat.
Untuk Umur 7 – 9 tahun – Penekanannya dan tanggungjawab.
Kepada umur ini pula ibu ayah telah bisa mengantar anak ke TK Islamiyah yang mengajarkan anak tentang shalat biar anak lebih mengerti dan senang untuk shalat.
Untuk Umur 7 – 9 tahun – Penekanannya dan tanggungjawab.
Ini merupakan tahun pengokohan bagi dasar shalat untuk anak. Ibu dan
ayah telah menunjukkan teladan, ajakan dan pemahamannya dari sejak lahir.
Masa ini anak seharusnya telah tau apa saja yang penting dikerjakan ketika
adzan, cara mengambilkan air wudhu, gerakan shalat dan bacaannya di dalam
shalat.
Biarpun belum lancar dan tidak cermat, setidak-nya anak telah ada dasar. Ketika mencapai umur 9 tahun, ibu dan ayah harus mulai sedikit tegas dan selalu ingatkan anak untuk shalat.
Biarpun belum lancar dan tidak cermat, setidak-nya anak telah ada dasar. Ketika mencapai umur 9 tahun, ibu dan ayah harus mulai sedikit tegas dan selalu ingatkan anak untuk shalat.
Untuk umur 10 tahun ke atas – berikan Denda dan hukumannya.
Dalam hadist bab shalat, Nabi muhammad Saw membenarkan kita untuk
memukul mereka yang tidak shalat ketika anak mencapai umur 10 tahun. Namun
sebelum ayah ibu memukul, apakah kita sudah memberikan pengertian serta teladan
yang baik buat anak?
Tidak mudah untuk ibu dan ayah menjatuhi hukuman dan memukul anaknya. senantiasa
kita Semoga menjadi pemimpin yang adil dalam menentukan hukuman dan denda
terhadap anak-anak.
2) Cipatakan suasana masjid yang nyaman buat anak.
Bisa jadi, tidak betahnya anak di masjid, dikarenakan perilaku
orang-orang dewasa yang selalu memarahi dan membentak mereka apabila bercanda
di masjid.
Kita mesti memahami usia anak-anak yang masih senang bermain. Oleh karena itu, ciptakanlah suasana yang nyaman di masjid bagi anak. Sediakanlah area bermain dekat masjid agar anak-anak senang berlama-lama di masjid dari pada di warnet atau bermain Gadget.
Kita mesti memahami usia anak-anak yang masih senang bermain. Oleh karena itu, ciptakanlah suasana yang nyaman di masjid bagi anak. Sediakanlah area bermain dekat masjid agar anak-anak senang berlama-lama di masjid dari pada di warnet atau bermain Gadget.
3) Yang terakhir Doa
Mungkin anda pernah mendengar kisah seorang bapak yang mengeluh kepada
seorang ustadz tentang anak-nya yang sangat susah diajak shalat.
Sang ustadz pun kemudian menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke salah satu sahabatnya yang merupakan orang biasa (bukan orang yang ahli agama).
Sang Ustadz pun mengobrol dengan sahabatnya tsb. Tak terasa waktu sudah memasuki ashar dan kemudian terdengar suara adzan dari masjid. Tak lama kemudian, anak laki-laki sahabat ustadz itu pun keluar dan mengajak ayahnya untuk sholat. Ustadz pun kagum pada anak sahabatnya itu. Walaupun masih kecil, namun sudah rajin shalat berjama'ah.
Sang ustadz pun kemudian menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke salah satu sahabatnya yang merupakan orang biasa (bukan orang yang ahli agama).
Sang Ustadz pun mengobrol dengan sahabatnya tsb. Tak terasa waktu sudah memasuki ashar dan kemudian terdengar suara adzan dari masjid. Tak lama kemudian, anak laki-laki sahabat ustadz itu pun keluar dan mengajak ayahnya untuk sholat. Ustadz pun kagum pada anak sahabatnya itu. Walaupun masih kecil, namun sudah rajin shalat berjama'ah.
Selesai shalat, sang ustadz bertanya kepada sahabatnya tentang cara dia
membiasakan shalat pada anaknya. Diapun menjawab tak tahu persisnya, namun dia
yakin bahwa itu semua karena dia selalu mengamalkan do'a Nabi Ibrahim As dari
sejak anaknya masih dalam kandungan bahkan dari sejak dia baru menikah dengan
istrinya.
Doa itu berbunyi :
Luar biasa! itulah kekuatan Do'a!
Wallau'alamu bishowab..
Monday, 6 June 2016
21:43
No comments
Kehidupan dunia adalah siklus permasalahan. Perputaran dari satu persoalan kepada persoalan berikutnya. Namun, berbeda orang maka berbeda pula cara mereka menghadapi persoalan hidup. Meskipun persoalan yang mereka hadapi adalah sama.
Ada orang yang menyikapi persoalan dengan diri yang tenang dan pikiran jernih. Namun, ada juga orang yang menyikapi persoalan dengan diri yang panik dan pikiran yang kalut. Tentu saja cara penyikapan yang berbeda akan melahirkan dampak yang berbeda pula.
Sejatinya, persoalan hadir dalam kehidupan dunia ini adalah sebagai sarana utk pelatihan diri manusia menjadi insan yang tangguh dan berkualitas. Sayangnya, tidak setiap orang mengetahui bagaimanakah cara yang baik dalam menyikapi persoalan.
Berikut ini, kiat-kiat agar kita bisa menyikapi dengan baik setiap persoalan yang datang di dalam hidup kita.
1. Siap pada berbagai kemungkinan
Kiat pertama adalah
kesiapan diri dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Mengapa kita
harus siap? Karena yang terjadi di dalam hidup ini tidak akan selalu sesuai dengan
keinginan kita. Bahkan kita harus akui bahwa jauh lebih banyak yang terjadi
tanpa kita duga dari pada yang kita duga. Maka, alangkah
menderitanya diri kita apabila kita hanya mempersiapkan diri utk menghadapi
kejadian yang sesuai dengan keinginan kita.
Salah satu cara yang
mujarab agar kita senantiasa siap menghadapi segala kemungkinan yang akan
terjadi adalah dengan berperasangka baik kepada Allah Swt. Dan sikap itu harus
selalu dilatih agar terbiasa.
Sebuah hadist qudsi
berbunyi, "Sesungguhnya Allah berfirman, "Aku sebagaimana prasangka
hambaKu kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku (H.R Turmudzi).
Berprasangka baik
terhadap Allah Swt. Akan membuat kita senantiasa siap menerima ketetapan Allah
Swt yang akan terjadi kepada kita.
Pernah dengar teori tukang parkir?
Inilah gambaran
sederhana bagaimana seseorang yang memiliki kesiapan diri dalam menghadapi
kenyataan yang akan terjadi. Seorang tukang parkir akan
senantiasa siap dengan kendaraan yang akan parkir di tempatnya. Demikian juga
apabila para pemilik kendaraan itu mengambil kendaraannya kembali dan pergi, ia
senantiasa siap. Mengapa demikian? Karena sejak semula ia sudah memiliki
pandangan bahwa semua kendaraan itu hanyalah titipan.
2. Ridha pada apa yang terjadi.
Pada penjelasan kiat
pertama kita sudah membahas bahwasanya kesiapan diri itu penting dalam rangka
menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi di dalam kehidupan ini.
Kemungkinan2 ini adlh hal yang belum terjadi. Apapun jika hal tsb telah
terjadi, maka sikap yang harus kita miliki adalah ridha.
Selain itu, yang penting kita yakini adlah bahwa sesungguhnya yang kita sangka baik utk diri kita itu belum tentu baik menurut Allah Swt, Dzat yang maha tahu.
Allah Swt berfirman, "... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padhal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui" (Q.S Al Baqarah : 216).
Mungkin antum pernah dengar peristiwa jatuhnya salah satu maskapai penerbangan di Indonesia yang menewaskan seluruh penumpangnya. Ternyata ada seorang calon penumpang yang tidak jadi berangkat, karena passportnya tertinggal di rumah, sehingga dia harus kembali utk mengambil passport tsb. Namun dia terlambat karena terkena macet di jalan. Pada saat itu dia sempat menggerutu dan menyalahkan keadaan. Namun, setelah mendengar berita kecelakaan kapal tersebut, dia malah bersyukur tidak jadi berangkat naik pesawat tsb.
Sungguh, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita.
Selain itu, yang penting kita yakini adlah bahwa sesungguhnya yang kita sangka baik utk diri kita itu belum tentu baik menurut Allah Swt, Dzat yang maha tahu.
Allah Swt berfirman, "... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padhal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui" (Q.S Al Baqarah : 216).
Mungkin antum pernah dengar peristiwa jatuhnya salah satu maskapai penerbangan di Indonesia yang menewaskan seluruh penumpangnya. Ternyata ada seorang calon penumpang yang tidak jadi berangkat, karena passportnya tertinggal di rumah, sehingga dia harus kembali utk mengambil passport tsb. Namun dia terlambat karena terkena macet di jalan. Pada saat itu dia sempat menggerutu dan menyalahkan keadaan. Namun, setelah mendengar berita kecelakaan kapal tersebut, dia malah bersyukur tidak jadi berangkat naik pesawat tsb.
Sungguh, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita.
Rasulullah Saw
bersabda, "Barangsiapa yang ridha (kepada ketentuan Allah) maka Allah akan
ridha kepadanya.." (HR. Tirmidzi)
3. Jangan mempersulit diri.
Kiat berikutnya yang
perlu kita lakukan dlm menyikapi kenyataan hidup adalah dengan tidak
mendramatisir kenyataan yang terjadi. Karena, jika mau jujur, permasalahan yang
terjadi dalam hidup kita adalah hasil dari dramatisasi yang dilakukan oleh diri
kita sendiri. Kita lebih banyak merasakan penderitaan atas kenyataan yang
terjadi, sebagai akibat dari karangan kita sendiri, kekhawatiran kita sendiri,
kepanikan kita sendiri. Ternyata semua itulah yang membuat kita menjadi merasa
tertekan dan terbebani. Padahal, segala kenyataan yang terjadi itu, jika kita
sikapi dengan kepala dingin, pikiran jernih dan hati yang lapang, kita tidak
akan merasa kerepotan menghadapi segala kenyataan yang terjadi pada hidup kita.
Sebagai contoh
misalnya, seseorang yang merasakan sakit pinggang. Kemudian dia memutuskan utk
memeriksakan diri ke dokter. Sebelum jadi berangkat, ia berbincang dengan
rekannya dan menceritakan apa yang sedang dirasakannya itu. Ia sampaikan degala
kekhawatiran atas sakit pinggang tsb. Ia ceritakan tentang kekhawatiran
seandainya yang ia derita adalah penyakit ginjal, maka ia akan menghadapi
resiko pengobatan dan perawatan yang tidak sederhana dan mahal. Bahkan ia pun
menceritakan kegelisahan seandainya ternyata ia harus mengalami gagal ginjal
dan menjalani cuci darah, dan seterusnya, dan sebagainya. Semakin orang ini
menceritakan ketakutan dan kekhawatirannya, maka semakin terbebanilah ia,
semakin stress-lah ia.
Maka, kendalikanlah
diri sebisa mungkin agar terhindar dari sikap mendramatisir masalah yang sedang
terjadi. Karena pada hakikatnya setiap persoalan yang menimpa diri manusia itu
sudah terukur oleh Allah swt, sesuai dengan kadar kemampuan manusia tsb utk
menghadapinya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam Al-Quran, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.."
(QS. Al Baqarah : 286)
Hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam Al-Quran, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.."
(QS. Al Baqarah : 286)
4. Kuasai ilmunya
Sebenarnya tidak ada
yang aneh dalam kehidupan ini. Polanya masih sama, begitu begitu saja. Seperti pergantian
siang malam, terus menerus seperti itu. Ada senang dan tidak senang, gembira
dan kesedihan. Ada gelap ada terang, murung dan riang. Susah dan mudah, marah
dan ramah. Kadang dipuji kadang dicaci. Sesekali disukai sesekali dibenci. Punya
dan tidak punya, sehat dan sakit, lapang dan sempit. Begitulah seterusnya. Tidak ada yang aneh, kecuali yang aneh itu
adalah apabila kita tidak semakin mengerti tentang kehidupan ini.
Semestinya, apapun
yang terjadi pada diri kita menjadi pelajaran berharga untuk kita. Hendaknya,
setiap yang terjadi menimpa kita, itu menjadi ilmu tentang kehidupan, sehingga
kita semakin tangguh dan siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Persis ketika
kita menghadapi siang dan malam. Kita siap menghadapi siang, kita pun siap
menyongsong malam.
Jika kita mengetahui
ilmunya, ketika kita dilimpahi kekayaan materi yang berlebih, maka kita
manfaatkan untuk berderma, membantu sesama dan membelanjakannya di jalan Allah.
Kita manfaatkan juga kesempatan tersebut untuk meraup lebih banyak ilmu,
memperluas wawasan, memperlebar dan memperkuat persaudaraan, serta manfaat
lainnya.
Akan tetapi ketika
kekayaan materiil itu tidak ada di tangan kita, kita pun sudah mengetahui
ilmunya. Yaitu dengan bersabar, berprasangka baik tehadap Allah, gigih menjaga
kehormatan diri dengan tidak meminta-minta kepada oang lain, bahkan justru
meningkatkan kreatifitas untuk berusaha mendapatkan penghasilan secara baik dan
halal.
5. Evaluasi diri
Di dalam AlQuran
Allah Swt berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan menerima
balasannya. (QS. Al Zalzalah 7-8)
Demikianlah
kehidupan dunia ini. Seperti suara gema. Apa yang kita teriakan, maka suara
itulah yang akan kita dengar. Apa yang kita lakukan akan kembali pada diri
kita. Baik itu kebaikan maupun keburukan.
Langkah terbaik yang harus kita lakukan setelah suatu kejadian menimpa kita adalah ridha yang disusul dengan tafakur dan evaluasi diri. Renungkanlah hikmah di balik peristiwa tsb. Boleh jadi itu adalah teguran dari Allah.
Langkah terbaik yang harus kita lakukan setelah suatu kejadian menimpa kita adalah ridha yang disusul dengan tafakur dan evaluasi diri. Renungkanlah hikmah di balik peristiwa tsb. Boleh jadi itu adalah teguran dari Allah.
6. Jadikan Allah saja sebagai penolong.
Allah swt berfirman,
"HasbunaAllah wani'mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan
Allah adalah sebaik baik tempat bersandar)." (QS. Ali-Imran : 173)
Itu adalah doa nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan penguasa Babilonia, Raja Namrud. Ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh api, maka tidak ada yang seorangpun yang mampu menolong, kecuali Allah.
Itu adalah doa nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan penguasa Babilonia, Raja Namrud. Ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh api, maka tidak ada yang seorangpun yang mampu menolong, kecuali Allah.
Kisah nabi Ibrahim
AS di atas memberikan pelajaran kepada kita untuk senantiasa meyakini sepenuh
hati bahwasanya hanya Allah Swt tempat kita berlindung dan memohon pertolongan.
Kisah ini juga mengajarkan kita berpegang teguh hanya kepada-Nya secara total.
Wallahu'alam.
SUMBER :
5 KIAT MENGHADAPI
PERSOALAN HIDUP
Oleh : Abdullah
Gymnastiar
Jumlah Halaman : 72
Hal
Penerbit : SMS Tauhid
Cetakan II, Januari
2012
Subscribe to:
Posts (Atom)










